Qurban dan Kalkulator Iman di Masa Krisis
Iduladha di masa sulit bukan soal pamer hewan kurban, tapi ujian menyembelih ego saat dompet sedang sesak.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
BACA JUGA:5 Kriteria Hewan Kurban yang Sah dan Sehat Menurut Syariat
Padahal kurban bukan lomba status. Kurban bukan pamer kesalehan. Kurban bukan iklan diri. Kurban adalah latihan untuk menyembelih kesombongan dalam diri.
Hewan kurban memang disembelih di halaman masjid. Namun, yang seharusnya ikut disembelih adalah ego manusia. Rasa paling dermawan. Rasa paling saleh. Rasa paling mampu. Bila semua itu masih tumbuh subur, bisa jadi yang mati hanya kambingnya, sementara kesombongan tetap hidup.
Islam tidak membebani manusia di luar kemampuannya. Kurban adalah ibadah bagi mereka yang mampu. Karena itu, tidak perlu ada tekanan sosial yang membuat orang merasa berdosa hanya karena belum bisa berkurban. Tidak semua orang berada dalam kondisi yang sama.
Ada yang mampu membeli sapi. Ada yang hanya mampu ikut patungan. Ada yang belum mampu, tetapi tetap ingin membantu membagikan daging. Ada yang hanya bisa mendoakan. Semua punya ruang kebaikan masing-masing.
Yang paling penting adalah jangan sampai semangat Iduladha hilang dari kehidupan sehari-hari. Orang yang belum mampu berkurban tetap bisa berkorban: menolong tetangga, menyisihkan sedekah, membantu keluarga yang kesulitan, atau sekadar menjaga agar ucapannya tidak melukai orang lain. Sebab pengorbanan tidak selalu berbentuk hewan. Kadang berbentuk waktu. Kadang tenaga. Kadang perhatian. Kadang kesediaan untuk tidak egois.
Krisis ekonomi global sebenarnya sedang menguji karakter sosial kita. Apakah ketika hidup sulit, kita menjadi semakin individualistis? Apakah ketika harga naik kita semakin curiga kepada sesama? Apakah ketika masa depan tidak pasti, kita memilih menyelamatkan diri sendiri dan melupakan orang lain?
Iduladha memberi jawaban yang lembut, tetapi tegas: jangan biarkan krisis memiskinkan kepedulian.
Sebuah bangsa tidak hanya kuat karena angka pertumbuhan ekonominya. Tidak hanya karena cadangan devisanya. Tidak hanya karena proyek-proyek besarnya. Bangsa juga kuat karena warganya masih saling menolong. Masih mau berbagi. Masih mau menjaga empati saat keadaan sedang sulit.
Di tengah dunia yang penuh kecemasan, kurban mengingatkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan nurani. Harga boleh naik. Pasar boleh bergejolak. Ekonomi boleh tidak pasti. Namun, iman harus tetap melahirkan keberpihakan sosial.
Berkurban di tengah krisis adalah pesan yang sangat mendalam: bahwa ketakutan ekonomi tidak boleh mengalahkan kemanusiaan. Bahwa rezeki yang dibagi tidak selalu berkurang maknanya. Bahwa daging yang sampai ke tangan orang kecil bisa menjadi tanda bahwa mereka tidak sendirian.
Iduladha akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menyembelih hewan. Tetapi tentang siapa yang berani menyembelih ego. Bukan hanya tentang siapa yang membagikan daging. Tetapi tentang siapa yang menjaga solidaritas.
Sebab dunia mungkin sedang tidak baik-baik saja. Tetapi selama manusia masih mau berbagi, harapan belum benar-benar mati.
*) Dosen Universitas 45 & Ketua Yayasan Perjuangan 45
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: