Mamasak Asa: Membaca Marapi Lewat Sulaman dan Bunyi
Mamasak Asa karya Rani Jambak, musikalitas yang menempatkan Gunung Marapi di Minangkabau sebagai pusat narasi.-Rani Jambak-
Dia menggunakan teknik sulam tradisional Minangkabau, Suji Caia, untuk membentuk motif Gunung Marapi. Yang dipercaya sebagai pusat asal-usul kebudayaan Minangkabau.
Menariknya, dia tidak menyulam di atas kain biasa. Melainkan menggunakan kain tembaga EMF anti-radiasi yang terhubung dengan perangkat elektronik Touch Me dari Playtronica.
Setiap sentuhan jarum pada kain mengirimkan sinyal MIDI melalui aliran listrik tubuh. Itu kemudian diproses menjadi komposisi audio secara langsung.
BACA JUGA:Icha, Penyanyi Jember yang Berhasil Tampil TV Hunan Tiongkok
BACA JUGA:Pecah! Justin Bieber Bawa Billie Eilish ke Coachella 2026, Jadi One Less Lonely Girl
Bunyi elektronik tersebut berpadu dengan rekaman pembacaan Tambo Alam Minangkabau dari Surau Parak Laweh.
Sebelumnya, interpretasi naskah tambo itu pernah dikembangkan Rani bersama M. Hario Efenur dan SOAS University of London. Yakni melalui pertunjukan Resonant Pages: Baco Aso Curah Raso.
“Gunung Marapi bukan hanya gunung secara fisik. Tetapi bagian dari memori kolektif masyarakat Minangkabau,” ujar Rani.
Menurutnya, karya tersebut lahir dari pengalaman personalnya tinggal di Lasi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, di kawasan kaki Gunung Marapi.
BACA JUGA:Gitaris Motorhead Phil Campbell Meninggal Dunia pada Usia 64 Tahun
Aktivitas vulkanik Marapi dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan rasa takut. Tapi juga kekaguman terhadap alam.
Dalam Tambo Alam Minangkabau disebutkan bahwa leluhur Minangkabau pertama kali menapakkan kaki di Gunung Marapi ketika daratan masih tampak sekecil telur itik.
Narasi historis dan spiritual itu terasa kuat sepanjang pertunjukan. Pembacaan tambo yang perlahan bertemu dengan bunyi sulaman repetitif. Menghadirkan suasana seperti ritual mendengar ingatan kolektif.
Karya Rani juga berangkat dari jejak sejarah perempuan Minangkabau Terutama sosok Rohana Kudus. Tokoh perempuan tersebut mendirikan Rumah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang pada 1915.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: