Mamasak Asa: Membaca Marapi Lewat Sulaman dan Bunyi

Mamasak Asa: Membaca Marapi Lewat Sulaman dan Bunyi

Mamasak Asa karya Rani Jambak, musikalitas yang menempatkan Gunung Marapi di Minangkabau sebagai pusat narasi.-Rani Jambak-


Interaksi antara Rani Jambak dan pengunjung dalam penampilannya bertajuk Mamasak Asa di Galeri Nasional Jakarta, 16 Mei 2026.-Rani Jambak-

BACA JUGA:Ratap Si Parto, Lagu Latar Tonil Karya WR Supratman Disajikan dalam Hari Musik Nasional 2026

BACA JUGA:Parade Indonesia Bermusik Buka Rangkaian Hari Musik Nasional di Makam WR Supratman

Rumah itu difungsikan sebagai ruang belajar perempuan. Mereka melakukan kegiatan menyulam. Sekaligus membangun kemandirian ekonomi.

Bagi Rani, sejarah Amai Setia menjadi penanda penting. Tentang bagaimana perempuan Minangkabau membangun ruang pengetahuan dan solidaritas melalui kerja tangan.

Dalam proses pengembangan Pamedangan, Rani juga belajar langsung dari penyulam tradisional di Koto Tuo. Yakni Essy Hariya, penyulam generasi keempat yang mewarisi teknik sulam keluarganya sejak kecil.

Melalui Mamasak Asa, Rani memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus diposisikan sebagai sesuatu yang beku dan tinggal di masa lalu.

BACA JUGA:8 Lagu Terbaik Vidi Aldiano, dari Nuansa Bening Hingga Bertahan Lewati Senja

BACA JUGA:Daftar Pemenang BRIT Awards 2026: Olivia Dean Berjaya, Rose & Bruno Mars Sabet Piala

Di tangannya, sulam berubah menjadi medium eksperimental. Terus hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. 

Ketua Yayasan Cemara Enam Inda C. Noerhadi menyebut IWA #4 juga menghadirkan karya perupa perempuan lintas generasi. Seperti Ve Dhanita, Citra Sasmita, Irene Agrivina, Sri Astari Rasjid, Umi Dachlan, hingga Lucia Hartini.

Melalui karya tersebut, Rani Jambak mengajak publik mendengar ulang hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan akar budayanya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: