Investigasi KNKT Kecelakaan Kereta Bekasi: Masinis Diminta Rem Dikit-Dikit
Petugas melakukan evakuasi terhadap gerbong KRL PLB 5568 yang tertemper KA Argo Bromo -Kemenhub-
JAKARTA, HARIAN DISWAY - Hanya karena dua kata ini: rem dikit-dikit. Akibatnya brutal. Enam belas nyawa melayang di Stasiun Bekasi Timur. Kejadiannya 27 April 2026 lalu. Antara KA Argo Bromo Anggrek melawan KRL Commuter Line.
Kemarin, kamis, 21 Mei 2026, tabir misteri itu mulai dibuka oleh KNKT. Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Soerjanto Tjahjono, blak-blakan di depan Komisi V DPR RI.
Publik selama ini bertanya: mengapa masinis Argo Bromo tidak ngerem habis-habisan? Jaraknya kan masih jauh?
Ternyata, masinis hanya manut pada perintah Pusat Pengendali (PK) Timur.
Pusat kendali tahu ada masalah di depan. Ada "temperan" di JPL 85. Maka, perintah pun dikirim lewat radio komunikasi.
BACA JUGA:Mobil Listrik Tidak Salah! Hasil Investigasi KNKT Bongkar Problem Persinyalan Kereta di Bekasi
BACA JUGA:Menhub Minta Publik Sabar Menunggu Hasil Investigasi KNKT Terhadap Kecelakaan KA di Bekasi Timur
"Karena dia (masinis) tahunya di komunikasi dari pusat kendali ada temperan di JPL 85, 'kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35', artinya banyak-banyak klakson," ucap Soerjanto di gedung DPR.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) saat ini adalah Dr. Ir. Soerjanto Tjahjono.-TV Parlemen-TV Parlemen
Masinis pun taat. Sejak jarak 1,3 kilometer sebelum titik tabrakan, tangan masinis sudah bekerja. Jarak 1.300 meter itu sebenarnya sangat cukup untuk membuat kereta berhenti total.
"Jadi, masinis tidak melakukan pengereman maksimum, karena informasi yang diterima dari PK Timur rem dikit-dikit dan sambil bunyikan klakson," kata Soerjanto.
Di sinilah letak ironinya. Petugas di pusat pengendali tidak tahu kondisi riil di Bekasi Timur. Mereka buta visual. Mereka hanya menduga-duga dari balik meja di, Manggarai, Jakarta.
“Tadi saya sampaikan bahwa dari jarak 1.300 meter (1,3 Km) setelah menerima berita bahwa di depan ada temperan, masinis sudah melakukan pengereman," ujar Soerjanto rapat.
Karena cuma mengandalkan suara, perintahnya jadi kurang jelas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: