SDM Unggul dan Godaan Militerisme

SDM Unggul dan Godaan Militerisme

ILUSTRASI SDM Unggul dan Godaan Militerisme.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa bangsa besar tidak dibangun hanya oleh manusia yang patuh, tetapi oleh manusia yang mampu berpikir.

Kemajuan peradaban lahir dari keberanian bertanya, bukan sekadar kemampuan mengikuti instruksi. Inovasi tumbuh dari kebebasan berpikir, bukan dari rasa seragam. Laporan Global Innovation Index bahkan menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat inovasi tertinggi dibangun melalui budaya riset, kreativitas, dan kebebasan akademik.

Hal itu terlihat dari kampus-kampus dan pusat riset terbaik dunia yang berkembang melalui budaya diskusi, kolaborasi, dan pertukaran gagasan. Dunia kerja modern pun kini lebih membutuhkan talenta yang kreatif, adaptif, dan kolaboratif daripada manusia yang sekadar terbiasa menerima perintah.

Tentu tidak semua nilai dalam dunia militer harus ditolak. Disiplin, loyalitas, daya juang, ketegasan, dan semangat pengabdian tetap merupakan nilai positif yang dibutuhkan dalam pendidikan. Namun, disiplin dalam dunia pendidikan seharusnya tumbuh dari kesadaran, bukan semata tekanan struktural.

Di sinilah letak persoalan yang sering kali luput dipahami.

Kita kerap menyamakan nasionalisme dengan militerisme, padahal keduanya bukan konsep yang identik. Nasionalisme adalah rasa memiliki terhadap bangsa dan kesediaan untuk berkontribusi bagi kepentingan bersama. Sementara itu, militerisme lebih dekat pada pola pembentukan perilaku melalui struktur hierarkis dan kepatuhan komando.

Cinta tanah air tidak selalu lahir dari barisan yang rapi atau pola pembinaan yang keras. Nasionalisme justru tumbuh ketika warga merasa dihargai, dilibatkan, dan memiliki ikatan emosional dengan bangsanya. Nasionalisme lahir ketika negara memberi ruang tumbuh, menghadirkan keadilan, dan menghormati martabat manusia.

Karena itu, membangun SDM unggul tidak cukup hanya melalui pembentukan kepatuhan formal. Yang jauh lebih penting adalah membangun manusia yang berintegritas, memiliki empati sosial, mampu bekerja sama, dan tetap berpikir jernih di tengah derasnya arus informasi digital.

Generasi muda hari ini hidup dalam realitas yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka menghadapi banjir informasi, perubahan pola kerja, kompetisi global, hingga perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. 

Dalam situasi seperti itu, kualitas manusia tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan mengikuti aturan, tetapi juga kemampuan membaca perubahan.

Dunia hari ini membutuhkan manusia yang mampu berdialog dengan perubahan, bukan manusia yang sekadar tunduk pada sistem.

Ironisnya, pendekatan yang terlalu militeristik justru berisiko mematikan beberapa kualitas penting tersebut. Ketika kritik dianggap ancaman, perbedaan dipandang sebagai pembangkangan, dan kepatuhan lebih dihargai daripada pemikiran, pendidikan perlahan kehilangan ruhnya sebagai ruang pembebasan intelektual.

Padahal, pendidikan sejatinya bukan hanya tentang mencetak tenaga kerja, tetapi juga membentuk manusia yang dewasa secara moral dan sosial.

Lebih jauh lagi, pembangunan SDM unggul tidak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem sosial bangsa. Anak muda tidak hanya belajar dari ruang kelas, tetapi juga dari teladan yang mereka lihat sehari-hari: bagaimana hukum ditegakkan, bagaimana perbedaan dihargai, dan bagaimana pemimpin memperlakukan warganya.

Dalam konteks ini, nasionalisme tidak cukup diajarkan melalui slogan atau simbol formal semata. Nasionalisme harus hadir dalam kehidupan sehari-hari: dalam keadilan sosial, budaya antikorupsi, penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, etika digital, dan keberanian menjaga kemanusiaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: