Indonesia Game Rating System (IGRS), Solusi atau Penghambat?

Indonesia Game Rating System (IGRS), Solusi atau Penghambat?

ILUSTRASI Indonesia Game Rating System IGRS), Solusi atau Penghambat?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Selain itu, International Age Rating Coalition (IARC) merupakan sebuah insiatif global yang bertujuan menyelaraskan sistem rating di seluruh dunia. Sementara Indonesia, sebagai salah satu negara yang sedang getol meningkatkan potensi pengembang permainan sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif, juga meluncurkan sistem rating yang dinamakan Indonesia Game Rating System (IGRS).

IGRS sendiri merupakan sistem rating bentukan Kementerian Komunikasi dan Digital yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah untuk merealisasikan sistem elektronik dan transaksi yang aman, reliabel, dan bertanggung jawab, utamanya video gim yang dilandasi oleh Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 2 Tahun 2024 tentang Klasifikasi Gim. 

Dasar klasifikasi IGRS tidak jauh berbeda dengan PEGI dan ESRB, yaitu pada komponen horor, interaksi daring, tampilan karakter, kekerasan, seksualitas/pornografi, perjudian, obat-obatan terlarang, darah, serta penggunaan bahasa. 

Atas dasar itulah, IGRS dibagi menjadi lima. Yaitu, IGRS 3+, IGRS 7+, IGRS 13+, IGRS 15+, dan IGRS 18+. Apabila tidak lolos pada lima kriteria tersebut, akan masuk ke penolakan atau ke kriteria RC (refused classification).  

Tantangan Sistem Rating Gim

Salah satu tantangan pengaplikasian rating gim itu adalah pada nilai budaya yang diimplementasikan di tiap wilayah yang kerap kali berbeda. Hal itu mengakibatkan perbedaan rating yang mungkin terjadi pada satu gim yang sama. Bisa jadi ESRB, PEGI, GRAC, dan IGRS memiliki persepsi yang berbeda terhadap konten dalam suatu gim. 

Sampai sekarang, meski sudah ada IARC yang berusaha menyelaraskan perbedaan budaya antara wilayah, yang dilakukan belum maksimal. Namun, perbedaan budaya memang sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari; untuk membuatnya seragam pun sepertinya mustahil.

Tantangan selanjutnya adalah pola sosialisasi. Sosialisasi rating gim itu sama dengan produk digital lainnya, yaitu mayoritas dilakukan secara digital. Sementara itu, stakeholders gim tersebut tidak semuanya melek digital. 

Banyak orang tua yang masih belum memiliki literasi digital yang baik tentang sebuah gim, alih-alih mengetahui rating gim. Persepsi masyarakat secara keseluruhan masih memandang bahwa gim hanyalah permainan digital untuk anak-anak, adiktif, dan sering dijadikan kambing hitam terhadap penurunan performa anak. 

Beberapa waktu yang lalu pun, di Indonesia Roblox sempat diancam akan dihentikan karena membawa pengaruh buruk terhadap perkembangan anak.

Pada IGRS, tantangan besarnya adalah independensi pemerintah dalam menentukan rating. Di beberapa belahan negara, rating gim digagas dan dijalankan oleh lembaga independen yang secara kelembagaan memiliki naluri untuk menentukan rating seobjektif mungkin. 

Namun, ketika lembaga rating itu dikelola oleh negara, bukan tidak mungkin bisa membatasi kreativitas pengembang dalam membuat gim baru. Apabila itu terjadi, bisa menjadi preseden buruk bagi pemerintah yang sedang getol-getolnya membangun ekosistem pengembang gim yang berkelanjutan.

IGRS juga masih memiliki kendala dalam integrasi sistem rating ke platform distribusi gim yang ada. Salah satu yang menjadi sorotan akhir-akhir ini adalah integrasi IGRS ke platform Steam. Perbedaan metodologi di IGRS dan Steam membuat banyak judul gim yang seharusnya untuk anak-anak menjadi dewasa dan sebaliknya. 

Hal itu terjadi pada periode 2–5 April 2026. Meskipun Steam telah melakukan klarifikasi bahwa ada kesalahan teknis dan miskomunikasi, hal itu tetap saja cukup membuat keresahan publik tentang kapabilitas pemerintah dalam memberlakukan sistem rating itu.   

Sebagai kesimpulan, tantangan yang dihadapi IGRS harus diantisipasi dengan baik oleh pemerintah. Sebagai salah satu penopang ekonomi kreatif di Indonesia, pengembang gim harus lebih banyak diberi peluang untuk bisa maju baik secara nasional maupun internasional. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: