Ketika Guru Diminta Berbahasa Inggris: Antara Kompetensi Global dan Identitas Kebahasaan
ILUSTRASI Ketika Guru Diminta Berbahasa Inggris: Antara Kompetensi Global dan Identitas Kebahasaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Pembiasaan dapat dimulai dari ungkapan sederhana, instruksi kelas, diskusi ringan, atau integrasi kosakata tertentu sesuai kebutuhan dan kesiapan sekolah. Pendekatan seperti itu jauh lebih sehat daripada menjadikan bahasa Inggris sebagai ukuran tunggal kualitas pendidikan.
Ada aspek lain yang tidak boleh diabaikan: kesiapan ekosistem pendidikan. Tidak semua sekolah memiliki kondisi yang sama. Guru di kota besar mungkin memiliki akses pelatihan, lingkungan praktik, dan sumber belajar yang lebih baik daripada guru di wilayah tertentu yang masih berjuang dengan keterbatasan sarana dasar.
Kebijakan yang baik bukan hanya soal visi, melainkan juga soal sensitivitas terhadap keragaman kondisi lapangan. Karena itu, jika pemerintah ingin memperkuat budaya berbahasa Inggris di sekolah, dukungan konkret menjadi keharusan.
Pelatihan guru, materi ajar yang adaptif, pendampingan pedagogis, serta model implementasi yang fleksibel harus dipersiapkan secara serius. Kebijakan bahasa yang baik tidak lahir dari instruksi semata, tetapi juga dari ekosistem yang memungkinkan pelaksanaannya berjalan adil dan bermakna.
Di sisi lain, sekolah juga perlu tetap memberikan ruang hidup bagi bahasa daerah melalui kegiatan budaya, sastra lokal, cerita rakyat, ekspresi seni, atau penggunaan kontekstual dalam pembelajaran tertentu. Pelestarian bahasa daerah tidak cukup diwujudkan melalui slogan, tetapi juga melalui ruang penggunaan yang nyata.
Pada dasarnya, tantangan pendidikan bahasa di Indonesia bukan soal menentukan bahasa mana yang harus menang. Tantangannya adalah bagaimana membentuk generasi yang mampu berdiri kokoh dalam identitas nasionalnya sekaligus percaya diri memasuki dunia global.
Idealnya, siswa Indonesia tumbuh sebagai generasi yang kuat berbahasa Indonesia, berakar pada bahasa dan budaya daerahnya, serta kompeten menggunakan bahasa Inggris untuk membuka jendela dunia.
Sebab, menjadi warga global tidak harus berarti kehilangan bahasa sendiri. Mencintai bahasa Indonesia tidak harus membuat kita takut belajar bahasa dunia. Yang diperlukan adalah kebijaksanaan untuk menempatkan setiap bahasa pada fungsi dan martabatnya secara proporsional.
Di situlah pendidikan bahasa menemukan maknanya, bukan sekadar mengajarkan cara berbicara, tetapi juga membantu generasi muda memahami siapa dirinya dan bagaimana ia berhubungan dengan dunia. (*)
*) Ni Wayan Sartini adalah dosen di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: