Pecundang Pendidikan: Kisah Abadi Joki Seleksi PTN

Pecundang Pendidikan: Kisah Abadi Joki Seleksi PTN

Fenomena abadi joki ujian PTN: Pahlawan semu bagi konsumen, pecundang bagi pendidikan. -Nano Banana 2-Nano Banana 2

BACA JUGA:Menilik Fenomena Bisnis Joki dalam Pendidikan Indonesia (3) : Panen Omzet hingga Rp 90 Juta dari Para Pemalas

Orang sukses terbiasa dengan resilience, kemampuan melihat kesulitan bukan menjadi halangan mencapai tujuan. Meyakini bahwa akal pikiran adalah tools yang diberikan oleh Tuhan untuk menjalani kehidupan secara layak dan bermartabat. Selalu ada jalan disetiap tantangan.

Peran orang tua dalam membangun komunikasi yang terbuka dengan anak sangat diperlukan. Dengan interaksi dan komunikasi yang baik, orang tua bisa menggali minat dan kesulitan akademik yang dihadapi anak sehingga bisa mencari solusi yang disepakati bersama. Ingat, kesepakatan bersama, bukan pemaksaan karena peran orang tua sebagai donator utama. 

Peran orang tua adalah mengarahkan, merangkul dan memberikan wawasan yang luas. Orang tua jangan terlalu jaim selalu memposisikan sebagai orang tua. Adakalanya, orang tua diperlukan untuk hadir menjadi teman dan pendengar, bukan sebagai guru ataupun mentor. Dengarlah suara anak dengan pengertian yang luas. 

Jangan paksakan cita-cita orang tua menjadi cita-cita yang harus diwujudkan oleh sang anak. Anak memiliki impian dan cita-citanya sendiri.

Belajar adalah suatu proses yang berkelanjutan. Belajar harus dipenuhi dengan kegembiraan, bahagia, kesenangan, rasa ingin tahu, percaya diri, eksplorasi dan elaborasi. Menikmati proses, menikmati kesulitan untuk menemukan kemudahan, menikmati tangis untuk senyum lega.

Proses belajar tidak boleh meninggalkan trauma ketakutan, minder ataupun kesedihan lainnya. Belajar itu harus bahagia. Berikanlah anak ruang untuk menjadi versi terbaiknya.

BACA JUGA:Menilik Fenomena Bisnis Joki dalam Pendidikan Indonesia (2) : Dosen pun Dilanda Dilema…

BACA JUGA:Menilik Fenomena Bisnis Joki dalam Pendidikan Indonesia (1) : Joki ’’Dinormalisasi’’ sebagai ’’Solusi’’

Orang tua dan anak harus belajar bersabar dalam proses bertumbuh. Resilience tidak dibangun dalam hitungan hari, dia dibangun sepanjang hidup. Resilience tumbuh karena dipelihara, diijinkan untuk terlibat dengan keyakinan yang kuat.

Hidup anak bukan milik orang tua. Hormatilah keinginannya untuk memenangkan pertarungan hidup melalui cara yang bahagia. Ijinkan dia menjadi petarung kehidupan. Petarung akan memilih jalannya sendiri untuk menjadi pemenang.

*) Kepala Program Studi Manajemen Universitas 45 Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: