Mengabadikan Kiprah Kartolo dalam Memori Publik

Mengabadikan Kiprah Kartolo dalam Memori Publik

ILUSTRASI Mengabadikan Kiprah Kartolo dalam Memori Publik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Teknologi informasi dan rekam audiovisual saat ini telah merambah seluruh kalangan masyarakat dengan begitu cepat sehingga pengembangan penampilan seniman harus mengutamakan ide kreatif dan berbeda dengan sebelumnya. 

Pentas Kartolo yang direkam secara berseri mengantarkan kesenian ludruk mengalami titik balik sebagai media pembelajaran. Seandainya aksi pentas Kartolo tidak direkam, generasi saat ini atau mendatang hanya mengetahui cerita, tanpa mendengar dan mengetahui kelihaiannya melantunkan kidungan. 

Salah satu contoh kesenian pendahulu ludruk adalah bandan dan lerok yang tidak ada rekamannya, baik teks, audio, maupun audio. Itu mengakibatkan terputusnya informasi. Generasi saat ini tidak mampu membayangkan keseluruhan tampilan pentas ludruk bandan dan lerok. 

Berkat peran rekaman berwujud kaset, Kartolo dikenal tidak hanya di Kota Surabaya, tetapi juga menjangkau ke beberapa pelosok, terutama di Jawa Timur. Perekaman kesenian tradisional mengantarkan seseorang pendengar dan penonton ke konteks zaman ketika kesenian berada di puncak popularitas. 

Dengan kata lain, mendengarkan rekaman Kartolo membawa seseorang menjadi bagian pertunjukan di periode tertentu, kembali ke romantika kehidupan masyarakat lampau. Individu-individu yang berminat melantunkan kidung dan parikan Jawa dapat belajar dari rekaman audio Kartolo. 

Harapan Kartolo, unsur kesenian ludruk seharusnya diajarkan di sekolah. Sudahkah sebagian unsur kesenian ludruk menjadi praktik pembelajaran di sekolah pada pelajaran apresiasi seni-budaya? (*)

*) Samidi adalah dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

*) Kukuh Yudha Karnanta adalah dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: