Mengabadikan Kiprah Kartolo dalam Memori Publik
ILUSTRASI Mengabadikan Kiprah Kartolo dalam Memori Publik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Durasim Gondorejo alias Cak Durasim, misalnya, dikenang sebagai seniman pelopor perubahan kesenian ludruk genre drama. Ia berkolaborasi dengan tokoh pergerakan di Kota Surabaya tahun 1928 hingga meninggal pada 1944 setelah ditangkap dan disiksa tentara kempetai Jepang.
Hanya sedikit informasi yang ditemukan mengenai tokoh pembaharu kesenian ludruk. Sementara itu, Kartolo diketahui sebagai seniman yang memopulerkan kesenian ludruk drama humor (banyolan/lawakan).
Kesenian ludruk humor mengantarkan grup ludruk Kartolo direkam audio dalam bentuk kaset pada 1980 yang masih tersebar hingga tahun 2000. Cerita-cerita, kidungan, dan parikan yang direkam pada kaset melambungkan popularitas ludruk humor Kartolo sehingga melekat di hati penggemar. Kaset-kaset itu dialihmediakan ke media rekam canggih.
Beberapa lakon ludruk yang populer, misalnya, Kartolo Nyetrip, Kartolo Dadi Ratu, Kartolo Manten, Tumpeng Maut, Basman Mantu, Kumpeni Gulung Tikar, dan lain-lain sebanyak 79 episode audio koleksi pribadi Kartolo.
Bahkan, sebagian audio itu telah diunggah oleh penggemarnya di YouTube, Spotify, dan platform lainnya, yang dapat dengan mudah didengarkan hingga kini. Atas dedikasi dan kontribusinya pada kesenian ludruk, Kartolo memperoleh penghargaan Maestro Seni Tradisi di bidang kesenian ludruk tahun 2024 (Kepmendikbudristek Nomor 387/P/2024).
Seniman Kreatif
Penobatan Kartolo sebagai maestro seni ludruk menarik dipelajari bukan karena negara telah mengapresiasi seorang seniman tradisional, tetapi inovasi kreatif mengembangkan kesenian tradisional mengubah genre baru kesenian ludruk humor.
Itu wujud kreativitas seniman memodifikasi kesenian tradisional. Langkah-langkah Kartolo bersama seniman-seniman lain membentuk kelompok ludruk Kartolo dengan langgam humor merupakan format transformatif kesenian ludruk.
Grup ludruk Kartolo menyajikan konten bernuansa humor yang berbeda dengan grup lain. Modifikasi terletak pada struktur pentas kesenian ludruk yang terdiri atas bagian-bagian adegan, antara lain, pembukaan (tari remo), bedayan (tarian), kidungan jula-juli, dagelan, penyajian cerita.
Fokus penampilannya pada kidungan, parikan, dan cerita yang semuanya dibalut humor. Langkah-langkah kreatif seperti itu dapat diteladani oleh seniman-seniman lain sebagai terobosan karena struktur dan tampilan kesenian ludruk era lama tampaknya kurang menarik perhatian khalayak. Kesenian ludruk humor mungkin sebagai alternatif untuk pengembangan kesenian tradisional.
Kesenian ludruk humor digunakan sebagai strategi daya tarik supaya penonton tertawa. Humor merupakan pencapaian pragmatis performatif yang melibatkan berbagai keterampilan komunikasi, termasuk bahasa, gerak tubuh, penyajian citra visual, dan manajemen situasi.
Seniman dapat memperagakan melalui dua cara, yakni verbal monolog-dialog dan nonverbal gerakan atau tingkah laku. Banyak orang yang sudah telanjur kurang tertarik pada penampilan-penampilan kesenian ludruk mungkin dapat tergugah kembali jika muncul gagasan baru memodifikasi ulang kesenian ludruk.
Belajar dari Arsip dan Rekaman
Kartolo telah memberikan teladan sebagai seniman panggung melalui proses mengedepankan ide kreatif dan selalu mengasah keterampilan supaya setiap penampilan selalu berbeda. Media rekam audio telah mengubah karya seni pertunjukan menjadi relatif lebih awet.
Dokumentasi seni pertunjukan tradisional dalam bentuk suara dan video turut mendinamisasi hiburan auditif-visual.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: