Pertumbuhan yang Tak Dipercaya
ILUSTRASI Pertumbuhan yang Tak Dipercaya.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Dibutuhkan kemauan untuk membuat data lapangan kerja, harga kebutuhan pokok, dan kesempatan ekonomi sungguh-sungguh mencerminkan apa yang dirasakan orang biasa di pasar tradisional. Tanpa itu, kita akan terus mengulang ritual yang sama. BPS mengumumkan angka. Pejabat tepuk dada. Rupiah turun. Investor pergi. Rakyat diam.
Sampai suatu hari kediaman itu pecah jadi sesuatu yang lain.
Tetapi, sejarah republik ini mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan: Indonesia bukan negeri yang mudah patah. Kita pernah jatuh ke titik yang jauh lebih dalam dari hari ini. Tahun 1965 ekonomi kita lumpuh dengan inflasi 600 persen. Tahun 1998 sistem keuangan kita ambruk, bank-bank tutup, rakyat antre minyak goreng.
Setiap kali, kita bangkit. Tidak selalu cepat, tidak selalu rapi, tetapi bangkit. Dari reruntuhan Orde Lama, kita bangun pertumbuhan dua digit di tahun 70-an. Dari reruntuhan Orde Baru, kita bangun demokrasi yang dengan segala kekurangannya masih menjadi yang ketiga terbesar di dunia.
Bangsa ini punya rekam jejak yang lebih baik daripada yang sering kita akui ketika sedang pesimistis.
Yang membuat kita bertahan, dulu dan sekarang, bukan kebijakan dari atas. Itu pelengkap. Yang membuat kita bertahan adalah jutaan orang biasa yang tetap pergi ke pasar setiap pagi, guru-guru yang tetap mengajar di sekolah berdinding tripleks, nelayan-nelayan yang tetap melaut meski solar mahal, perawat-perawat yang tetap jaga malam di puskesmas terpencil.
Mereka tidak menunggu rupiah menguat untuk berbuat baik. Mereka tidak menunggu IHSG hijau untuk bekerja keras. Optimisme sejati Indonesia tidak pernah lahir dari Jakarta Pusat. Ia lahir dari pinggir-pinggir yang jarang masuk berita.
Maka, kontribusi terbaik kita sebagai warga negara hari ini bukanlah menunggu negara berbenah, lalu kita ikut serta. Sebaliknya, kita berbenah dulu di lingkaran kecil kita masing-masing dan negara akan ikut. Bayar pajak dengan benar meski tetangga tidak.
Didik anak dengan integritas meski zaman menggoda sebaliknya. Bangun bisnis yang adil kepada pekerjanya meski kompetitor curang. Pilih pemimpin dengan kepala dingin meski politik identitas berisik. Tulis, suarakan, kritisi, tetapi juga berkarya.
Indonesia menjadi negara maju bukan karena satu peristiwa besar di masa depan. Ia menjadi maju karena akumulasi keputusan-keputusan kecil yang benar, yang diambil oleh jutaan warganya hari ini, esok, dan lusa.
Itulah pertumbuhan yang sesungguhnya yang tidak perlu diumumkan BPS, tidak perlu ditepuktangani investor, tetapi yang lambat laun akan terasa di setiap rumah.
Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen seharusnya menjadi modal politik yang besar. Sayang, ia datang ke pesta yang tuan rumahnya sudah tidak dipercaya tamu-tamunya. Hidangan dibilang enak, tetapi piring banyak yang dibalik.
Musik dibilang merdu, tetapi tak ada yang berdansa. Pertumbuhan yang dipercaya, itu pertumbuhan yang berakar. Pertumbuhan yang tidak dipercaya, betapa pun tingginya, menjadi sangat rapuh.
Tanyakan saja kepada rupiah. (*)
*) Yudi Fathoni Wijaya, mahasiswa S-3 Pengembangan Sumber Daya Manusia, Universitas Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: