Final Liga Champions PSG vs Arsenal Digelar 3 Jam Lebih Awal, Ini Penjelasan UEFA
Luis Enrique saat mengangkat trofi Liga Champions setelah berhasil mengalahkan Inter Milan 5-0 di babak final, 1 Mei 2025-Instagram-@psg
Buat penggemar yang menonton lewat layar kaca juga begitu. Penonton dari Asia, misalnya, tidak perlu bergadang dini hari untuk menyaksikan laga final. Di Indonesia, menonton sepak bola pada pukul 23.00 WIB lebih masuk akal daripada 02.00 WIB.

Para suporter Arsenal melakukan selebrasi khas Viktor Gyokeres dalam perayaan gelar Premier League 2025/2026..--Getty Images
Di negara-negara tersebut, dampak ekonominya juga bisa lebih besar. Karena kafe-kafe bisa menggelar nobar. Mereka bisa menjaring pengunjung lebih banyak daripada jika kick off tetap pukul 02.00 WIB.
Ini bukan kali pertama UEFA mengubah jadwal final Liga Champions. Pada 2010, UEFA juga membuat keputusan besar. Mereka memindahkan partai final dari hari Rabu ke hari Sabtu demi menjangkau lebih banyak penonton di seluruh dunia.
BACA JUGA:Jelang Arsenal vs PSG, Martin Keown Sebut Eberechi Eze Bisa Menjadi Pembeda
BACA JUGA:Arsenal vs PSG: Mikel Arteta Sebut Luis Enrique Contoh bagi Semua Pelatih
Sementara itu, laga final kali ini dipastikan berlangsung sengit. PSG datang dengan status juara bertahan. Les Parisiens (julukan PSG) juga tampil impresif sepanjang musim ini dengan menjuarai Ligue 1, Piala Super Prancis, dan Piala Super UEFA.
Mereka berambisi mempertahankan gelar sekaligus menambah koleksi trofi Liga Champions menjadi dua dalam sejarah klub.
Di sisi lain, Arsenal membawa motivasi yang tidak kalah besar. Setelah mengakhiri penantian panjang dan menjuarai Premier League, pasukan Mikel Arteta kini memburu sejarah baru dengan meraih gelar Liga Champions pertama sepanjang sejarah klub.
Dengan dua tim yang sama-sama haus prestasi dan format kick-off yang berbeda dari biasanya, final Liga Champions 2025/2026 dipastikan menjadi salah satu laga menarik yang dinantikan pecinta sepak bola dunia. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: newyork times