Bertanding untuk Bersanding 4.0

Bertanding untuk Bersanding 4.0

Ilustrasi Munas HIPMI-Dibuat dengan Ai-

Sepuluh hari lagi. 10 Juni 2026.

Munas HIPMI 2026 akan digelar. Empat calon sudah siap. Barisan sudah terbentuk. Diskusi makin keras. Suhu makin panas.

Wajar.

Begitulah setiap kontestasi. Ia selalu melahirkan energi. Dan energi itu, hampir selalu, berdinamika.

Tapi ada yang lebih penting dari kemenangan. Ada yang lebih berharga dari jabatan. Dan itu bukan soal siapa yang terpilih, melainkan soal bagaimana kita bertanding.

Saya jadi teringat kisah Buya Hamka.

Ia dipenjara oleh Presiden Soekarno. Bukan sehari dua hari. Bertahun-tahun. Namun di balik jeruji besi itu, ia justru bersyukur. Katanya: ada waktu untuk menyelesaikan tafsir 30 juz.

Luar biasa.

Tapi yang lebih luar biasa lagi, ketika Soekarno menjelang wafat, beliau berwasiat. Ia ingin Buya Hamka yang menjadi imam shalat jenazahnya. Buya Hamka pun memenuhinya. Tanpa dendam. Tanpa syarat. Ia memimpin doa untuk orang yang pernah memenjarakannya.

Itulah kebesaran jiwa.

Bangsa ini tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu sepakat. Ia dibangun oleh mereka yang tetap saling menghormati meski berbeda.

Ada juga Mohammad Natsir.

Karena Petisi 50-nya, ia dicekam Orde Baru. Geraknya dibatasi. Namanya dijauhkan dari panggung kekuasaan. Tapi M. Natsir tidak berhenti. Setiap Idul Fitri, ia tetap bersilaturahmi ke Cendana, rumah Presiden Soeharto, meski tak selalu disambut dengan layak.

Ia tetap datang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: