Kemendiktisaintek Ajak UNY Telusuri Dugaan Riset Palsu di Konferensi Denmark

Kemendiktisaintek Ajak UNY Telusuri Dugaan Riset Palsu di Konferensi Denmark

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengaku pihaknya telah berkoordinasi dengan UNY untuk mengusut dugaan Riset Palsu yang menjerat sejumlah WNI di Denmark-TVR Parlemen-

Namun, ia menjelaskan bahwa mekanisme tersebut tidak dapat diterapkan kepada individu yang tidak memiliki hubungan formal dengan perguruan tinggi.

BACA JUGA:Profil dan Riwayat Pendidikan Sahnaz Vivinda Putri, Adik Rifaldy Fajar Terduga Riset Palsu yang Ikut Terseret

BACA JUGA:Daftar 35 Jurnal Rifaldy Fajar Disorot Usai Dugaan Riset Palsu ISPPD 2026, Publikasi dari AI hingga Kesehatan

Brian mengatakan jika pelanggaran dilakukan oleh dosen atau peneliti yang berada di bawah naungan kampus, kementerian dapat melakukan pemeriksaan melalui komisi etik dan disiplin. Bahkan, sanksi administratif hingga penghentian status kepegawaian dapat dijatuhkan apabila terbukti melanggar.

Sebaliknya, terhadap pihak yang tidak memiliki afiliasi formal dengan pendidikan tinggi, kewenangan tersebut tidak bisa diterapkan karena berada di luar ranah pembinaan Kemendiktisaintek.

Meski demikian, Brian memastikan proses pengumpulan data dan informasi masih terus dilakukan untuk menentukan langkah lanjutan.

"Meskipun begitu, kami terus-menerus melakukan pengumpulan informasi. Termasuk pihak UNY yang telah melakukan penelusuran terkait pihak-pihak yang diduga terlibat dalam dugaan Riset palsu tersebut," ungkapnya.

BACA JUGA:Rifaldy Fajar Buka Suara soal Dugaan Riset Palsu ISPPD 2026, Berikut Isi Klarifikasi Lengkapnya

BACA JUGA:Akun Medsos Rifaldy Fajar dan Prihantini Mendadak Hilang Usai Viral Dugaan Riset Palsu Pakai AI

Sementara itu, Universitas Negeri Yogyakarta juga disebut telah mengambil langkah internal dengan memanggil sejumlah pihak yang diduga terlibat setelah berkoordinasi dengan Kemendiktisaintek.

Kasus dugaan riset palsu ini sebelumnya mencuat setelah diungkap peneliti Indonesia yang berkarier di University of Oxford, Wa Ode Dwi Daningrat, melalui media sosial pada akhir Mei 2026.

Dwi menemukan sejumlah kejanggalan dalam abstrak ilmiah yang dipresentasikan kelompok periset Indonesia pada konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases 2026 atau ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026 di Denmark.

Menurut Dwi, terdapat 19 abstrak yang dipresentasikan dalam forum ilmiah internasional tersebut. 

Ia menilai jumlah karya yang diajukan tidak masuk akal untuk disusun dalam waktu singkat dan menemukan indikasi ketidakakuratan data, fabrikasi penelitian, hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penyusunannya.

Temuan itu kemudian memicu perhatian luas dan mendorong sejumlah institusi pendidikan serta pemerintah untuk melakukan penelusuran lebih lanjut terhadap dugaan pelanggaran integritas akademik tersebut. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: