Partai Kecoak: Ketika Satire Lebih Jujur daripada Pidato Politisi

Partai Kecoak: Ketika Satire Lebih Jujur daripada Pidato Politisi

ILUSTRASI Partai Kecoak: Ketika Satire Lebih Jujur daripada Pidato Politisi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Sebab, humor politik bekerja dengan cara mempermalukan kekuasaan secara simbolis. Penguasa sering mampu menghadapi demonstrasi, tetapi sulit menghadapi ejekan kolektif yang viral.

Fenomena kritik sarkastik itu mengingatkan kita akan era Uni Soviet yang pernah berjaya di bawah kepemimpinan komunis sentralistis. Saat itu muncul banyak kritik pedas yang dikemas dengan cara humor. 

Salah satu buku berisi kritik bernada humor terhadap para pemimpin Uni Soviet sempat menjadi best seller, Mati Ketawa Cara Rusia (MKCR), yang disunting kritikus Z. Dolgopolova pada akhir 1980-an.  

 

Buku MKCR pada dasarnya bukan sekadar kumpulan humor. Ia adalah bentuk kritik sosial-ekonomi-politik terselubung terhadap sistem Uni Soviet yang represif menjelang keruntuhannya. Humor dalam buku itu bekerja seperti ”katup tekanan”: rakyat tidak bisa mengkritik negara secara terbuka, maka kritik disalurkan melalui lelucon, satire, dan anekdot. 

Humor Sarkastis, Tanda Kedewasaan Sosial

Terdapat kemiripan pesan yang disampaikan Partai Kecoak dengan konten buku MKCR, yakni beberapa pesan utama yang ingin disampaikan kepada publik. 

Pertama, kritik terhadap negara yang abai terhadap aspirasi suara rakyat. Banyak lelucon yang menyindir birokrasi yang absurd, negara yang terlalu dominan, dan jauhnya rasa keterwakilan rakyat kepada para wakil rakyat di parlemen. 

Dalam sistem negara yang terlalu mengatur hampir semua aspek kehidupan (ekonomi, media, pekerjaan, bahkan bagaimana cara melontarkan pendapat dan kritik), humor muncul karena ada realitas yang tidak bisa dibohongi: propaganda negara mengatakan ”semua baik-baik saja”, tetapi realitasnya rakyat penuh antrean, kelangkaan barang, dan ketakutan politik. 

Kedua, menertawakan kemunafikan. Uni Soviet dibangun atas janji kesetaraan, keadilan sosial, dan masyarakat tanpa kelas. Akan tetapi, dalam praktiknya, muncul elite partai, privilese birokrat, korupsi kekuasaan, dan represi. Buku MKCR mengirim pesan bahwa ketika ideologi terlalu diagungkan, ia bisa berubah menjadi dogma yang kehilangan hubungan dengan kenyataan. 

Karena itu, banyak humor Soviet yang mengungkap sisi gelap yang sangat jarang diketahui publik luar: pejabat yang tidak kompeten, propaganda yang tidak masuk akal, statistik palsu, dan rakyat yang pura-pura percaya.

Ketiga, humor adalah sarana bertahan hidup. Karena kritik langsung sangat berbahaya, humor menjadi ”bahasa aman”. Itu mirip dengan konsep bahwa di rezim otoriter, lelucon sering menjadi media oposisi paling murah dan paling sulit dibungkam. 

Pesan implisitnya tajam saat sistem bisa bertahan lama dengan rasa takut, tetapi sulit bertahan ketika rakyat mulai menertawakannya. Banyak kalangan melihat humor publik bernuansa politik sebagai indikator menurunnya legitimasi kekuasaan di hadapan rakyat. 

Terdapat persepsi kuat bahwa dalam situasi yang tertekan rakyat tidak selalu bisa melawan secara revolusioner, tetapi mereka masih bisa menyindir, mengejek, dan membuat anekdot bawah tanah. Artinya, humor bukan sekadar hiburan, ia adalah survival psychology.

Dalam konteks masyarakat represif, tertawa menjadi cara mempertahankan kewarasan. Bahkan, Gus Dur dalam pengantar buku MKCR tersebut menyinggung pentingnya ”menertawakan diri sendiri” sebagai tanda kedewasaan sosial. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: