Partai Kecoak: Ketika Satire Lebih Jujur daripada Pidato Politisi

Partai Kecoak: Ketika Satire Lebih Jujur daripada Pidato Politisi

ILUSTRASI Partai Kecoak: Ketika Satire Lebih Jujur daripada Pidato Politisi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Fenomena-fenomena tersebut memperlihatkan pola yang sama: ketika politik formal kehilangan kredibilitas, rakyat mencari bentuk ekspresi alternatif yang lebih emosional dan simbolis. Dalam banyak kasus sejarah, kekuasaan biasanya runtuh bukan saat rakyat marah, melainakn saat rakyat mulai ”menertawakan” penguasanya. 

Sebab, kemarahan masih bisa dinegosiasikan. Tetapi ketika legitimasi berubah menjadi bahan meme dan ejekan publik, itu berarti jarak psikologis antara negara dan rakyat sudah terlalu jauh. 

Dan, mungkin di situlah pesan paling tajam dari Partai Kecoak: demokrasi yang sehat tidak takut kritik, tetapi demokrasi yang membusuk justru takut ditertawakan! (*)

*) Sukarijanto adalah pemerhati Kebijakan Publik dan Peneliti di Institute of Global Research for Economics, Entrepreneurship, & Leadership dan kandidat doktor di School of Leadership, Universitas Airlangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: