Pendidikan Membahagiakan Berbasis Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Pendidikan Membahagiakan Berbasis Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

ILUSTRASI Pendidikan Membahagiakan Berbasis Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Sering kali pendidikan diidentikkan dengan tekanan, hukuman, intimidasi, dan kompetisi yang berlebihan. Banyak murid merasa sekolah menjadi ruang yang melelahkan secara emosional. Fenomena perundungan, kekerasan verbal, diskriminasi, hingga tekanan akademik berlebihan menjadi ancaman nyata terhadap kebahagiaan belajar. 

Dalam konteks tertentu, dikenal sebagai schooling without learning, murid bersekolah tetapi tidak terjadi pembelajaran yang baik. Sangat bertentangan dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan bertujuan menuntun anak mencapai ”keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya”. 

Semangat permendikdasmen itu sangat sejalan dengan filosofi tersebut yang menegaskan bahwa sekolah harus menjadi lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi tumbuh kembang murid. 

BACA JUGA:Pendidikan untuk Semua, Slogan Nyata atau Sekadar Permainan Kata-Kata?

BACA JUGA:Partisipasi Semesta, Kunci Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua

Kebahagiaan Belajar dan Kesehatan Mental

Salah satu poin penting dalam permendikdasmen itu adalah perhatian terhadap kesejahteraan psikologis murid. Sekolah yang penuh tekanan, intimidasi, dan ketakutan akan menghambat potensi murid. 

Sebaliknya, lingkungan belajar yang aman, suportif, dan inklusif akan meningkatkan motivasi belajar, kreativitas, dan rasa percaya diri. Sekolah tidak cukup hanya aman secara fisik, tetapi juga harus aman secara emosional dan sosial.

Dari perspektif psikologi, pendidikan yang membahagiakan sangat berkaitan dengan kesehatan mental dan perkembangan emosional murid. Meski tergolong referensi lama, Abraham Maslow dalam bukunya, A Theory of Human Motivation (1943), menjelaskan teori hierarchy of needs bahwa ”human needs are organized in levels: physiological, safety, love and belonging, esteem, and self-actualization”. 

Psikologi positif itu juga menempatkan pendidikan sebagai ruang untuk membangun emosi positif, relasi yang sehat, makna hidup, dan pencapaian diri. Karena itu, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan ”apa yang dipikirkan”, tetapi juga ”bagaimana menjalani kehidupan”.

BACA JUGA:Menakar Urgensi MBG atau Subsidi Pendidikan pada Sekolah Dasar, Menengah, dan Tinggi

BACA JUGA:Kebijakan Populis Kikis Prioritas Pendidikan

Begitu pun kajian OECD dalam Students’ Well-Being (2024), juga menegaskan bahwa kesejahteraan murid berpengaruh langsung terhadap prestasi akademik dan kualitas hidup mereka. Murid yang merasa bahagia di sekolah cenderung memiliki keterlibatan belajar lebih tinggi dan hubungan sosial yang lebih sehat.

Permendikdasmen juga mendetailkan tentang pemenuhan kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, dan keamanan sosiokultural serta keadaban dan keamanan digital. Keempatnya memberikan pemahaman bahwa pendidikan modern tidak lagi hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga kesejahteraan manusia secara utuh. 

Regulasi itu juga menekankan pentingnya kesempatan setara untuk berekspresi, penguatan dukungan psikologis dan sosial, lingkungan inklusif yang menghargai keberagaman, dan hubungan yang saling menghormati antar sesama warga sekolah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: