Partisipasi Semesta, Kunci Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua
ILUSTRASI Partisipasi Semesta, Kunci Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
SETIAP tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum refleksi atas perjalanan panjang dunia Pendidikan. Tanggal itu dipilih untuk mengenang kelahiran Ki Hadjar Dewantara, sosok pelopor Pendidikan yang menanamkan filosofi bahwa Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia.
Tema tahun ini, Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Tema tersebut menegaskan bahwa pendidikan bukan semata tanggung jawab negara, melainkan juga kerja kolektif seluruh elemen bangsa.
Dalam perspektif psikologi pendidikan, keterlibatan atau partisipasi memiliki peran krusial dalam membentuk proses belajar yang efektif. Teori social constructivism menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial.
BACA JUGA:Hardiknas 2026: Kadindik Jatim Tekankan Sinergi Lintas Sektor demi Pemerataan
BACA JUGA:Kapan Hardiknas 2026? Ini Sejarah dan Cara Memperingatinya?
Artinya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau fasilitas. Tapi, juga keterlibatan aktif siswa, guru, keluarga, dan lingkungan sosial. Ketika orang tua terlibat dalam pendidikan anak, motivasi belajar meningkat.
Ketika guru mampu menciptakan ruang dialog yang sehat, siswa berkembang tidak hanya secara kognitif, tetapi juga emosional dan sosial.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa partisipasi semesta itu masih menjadi pekerjaan rumah besar. Sejarah panjang Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa pendidikan Indonesia sejak awal dirancang inklusif dan membebaskan.
BACA JUGA:Hardiknas: Saat Pendidikan Menjadi Panggung Kemunafikan
BACA JUGA:Kebijakan Populis Kikis Prioritas Pendidikan
Ki Hadjar Dewantara melalui Taman Siswa memperjuangkan pendidikan yang tidak diskriminatif, membuka akses bagi semua lapisan masyarakat, terutama yang terpinggirkan. Sayang, hingga hari ini, semangat itu belum sepenuhnya terwujud.
Tantangan pendidikan Indonesia makin kompleks di era modern. Pertama, kesenjangan akses masih menjadi persoalan utama. Di wilayah perkotaan, teknologi pendidikan berkembang pesat, sedangkan di daerah terpencil, akses terhadap guru berkualitas dan infrastruktur dasar masih terbatas.
Kedua, kualitas pembelajaran belum merata. Banyak siswa yang masih terjebak dalam pola belajar hafalan, bukan pemahaman kritis. Hal itu bertentangan dengan prinsip psikologi pendidikan modern yang menekankan higher-order thinking skills.
BACA JUGA:Pendidikan dan Penguatan Karakter Berbasis MBG
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: