Hardiknas 2026: Kadindik Jatim Tekankan Sinergi Lintas Sektor demi Pemerataan
Kepala Dindik Jawa Timur Aries Agung Paewai-Dindik Jatim-
SURABAYA, HARIAN DISWAY – Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei menjadi pijakan strategis bagi Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur untuk mengevaluasi sekaligus memacu standar kualitas pendidikan. Mengingat besarnya cakupan wilayah, kolaborasi lintas sektor kini menjadi kunci utama dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.
Berdasarkan data Dindik Jatim, saat ini terdapat sedikitnya 4.688 satuan pendidikan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Angka tersebut mencakup 298 SMK Negeri, 1.860 SMK Swasta, 423 SMA Negeri, 1.709 SMA Swasta, serta 68 SLB Negeri dan 330 SLB Swasta. Skala pendidikan yang masif ini menuntut perhatian ekstra, terutama dalam aspek pemerataan kualitas antara sekolah di pusat kota dengan daerah penyangga.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa beban tanggung jawab pendidikan tidak boleh dipikul oleh pemerintah sendirian. Ia menekankan pentingnya konsep "Tiga Pilar" untuk memajukan dunia pendidikan: pemerintah, sektor swasta (dunia usaha dan dunia industri/DUDI), serta partisipasi aktif masyarakat.
“Pendidikan itu tidak bisa diurus hanya oleh pemerintah. Harus ada sinergi antara pemerintah, dunia usaha dan industri, serta masyarakat. Jika ketiga kekuatan ini digabung untuk peduli bersama terhadap pendidikan, saya yakin pendidikan kita akan semakin sukses dan maju,” ujar Aries saat memberikan keterangan resmi Kamis 1 Mei 2026.
BACA JUGA:Temui Dubes RI di Malaysia, Khofifah Perkuat Perdagangan dan Kerja Sama Pendidikan Jatim
BACA JUGA:Wiwin Sumrambah Dorong Penguatan Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal di Jombang
Pejabat lulusan IPDN tersebut mengakui adanya keterbatasan anggaran negara. Saat ini, fokus pemerintah harus terbagi ke berbagai sektor krusial lainnya, seperti pembangunan infrastruktur dan layanan kesehatan. Oleh karena itu, keterlibatan DUDI sangat diharapkan untuk menutupi celah kekurangan, mulai dari penyediaan sarana prasarana hingga peningkatan kualitas tenaga pendidik.
Aries menyoroti tantangan besar terkait kompetensi guru. Menurutnya, masih banyak guru yang memerlukan pelatihan tambahan agar mampu mengimbangi pesatnya perkembangan teknologi di ruang kelas. "Mengembangkan kompetensi guru membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ini harus menjadi perhatian bersama agar para guru mendapatkan ilmu tambahan sehingga mereka kompeten menyesuaikan model mengajar dengan teknologi saat ini," tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Dindik Jatim terus menggulirkan program pelatihan masif melalui Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Selain itu, melalui UPT PTKK, Dindik juga memfasilitasi sertifikasi kompetensi berbasis KKNI-LSK di bawah naungan Ditjen Vokasi Kemendikdasmen untuk menjamin lulusan dan pengajar memiliki standar yang diakui secara nasional.
Meski prestasi siswa Jatim di kancah nasional terus gemilang, Aries mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya adalah pemerataan. Keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya dilihat dari segelintir murid berprestasi di satu sekolah unggulan.
BACA JUGA:Wamendikdasmen Pantau TKA di Surabaya, Pastikan Mutu Pendidikan Terukur
BACA JUGA:Kekerasan Seksual di Lingkup Pendidikan Tinggi Menuntut Transformasi Sistemik
"Bukan hanya satu atau dua yang hebat, tapi bagaimana potensi itu merata di seluruh daerah. Tugas ini memang tidak mudah, tapi bisa diwujudkan jika dikerjakan bersama-sama," pungkas Aries yang berharap Jatim terus konsisten menjadi barometer pendidikan nasional. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: