Pendidikan dan Penguatan Karakter Berbasis MBG
ILUSTRASI Pendidikan dan Penguatan Karakter Berbasis MBG.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
SEBAGAI bagian dari program prioritas presiden RI, Program MBG (Makan Bergizi Gratis) secara resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 sebagai upaya strategis pemerintah untuk meningkatkan gizi, kualitas pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia yang unggul.
Sebagai instrumen intervensi kebijakan publik, MBG dirancang untuk meningkatkan status gizi murid, terutama di jenjang PAUD, sekolah dasar dan menengah, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sangat mendukung program itu sekaligus menegaskan bahwa MBG bukan sekadar penyediaan makanan, melainkan juga investasi strategis dalam pembangunan kualitas manusia untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi.
BACA JUGA:Bukber versus MBG: Antara Gizi, Tradisi, dan Nalar Negara
BACA JUGA:MBG saat Ramadan
Kemendikdasmen juga menegaskan kebermanfaatan MBG dari perspektif pendidikan dengan memastikan keterkaitannya terhadap kesehatan murid, perkembangan kognitif, kehadiran di sekolah, prestasi akademik, serta pengurangan ketimpangan pendidikan.
Berbagai kajian literatur dari penelitian nasional dan internasional menegaskan bahwa program makan bergizi di sekolah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan fungsi kognitif, konsentrasi belajar, partisipasi murid, dan kesetaraan akses pendidikan.
Bagi dunia pendidikan di Indonesia, MBG hadir sebagai kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai instrumen pendukung proses pembelajaran. Program itu tidak hanya menjawab kebutuhan nutrisi, tetapi juga berdampak luas pada aspek pendidikan seperti konsentrasi belajar, prestasi akademik, hingga kehadiran murid di sekolah.
BACA JUGA:MBG: Antara Nutrisi dan Krisis Keamanan Pangan
BACA JUGA:Pengaruh Implementasi MBG terhadap Makroekonomi Daerah Sebelum dan Sesudah Program Berjalan
Pada konteks ini, MBG berpotensi memperkuat fungsi sekolah sebagai ruang pengembangan intelektual, sosial, dan emosional murid secara utuh.
PEMENUHAN GIZI DAN PROSES BELAJAR
Intervensi gizi di sekolah memiliki dasar ilmiah yang kuat sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pembelajaran. Dalam rilis World Health Organization (WHO) bertajuk Healthy Diet: Fact Sheet tahun 2018, disebutkan bahwa secara teoretis hubungan antara gizi dan pendidikan dapat dijelaskan melalui pendekatan biopsikososial.
Otak sebagai pusat proses kognitif memerlukan asupan nutrisi yang memadai, seperti protein, zat besi, yodium, dan vitamin, untuk mendukung fungsi memori, perhatian, dan pemrosesan informasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: