Perguruan Tinggi Kelola MBG: Kampus SPPG, Inovasi atau Duplikasi?
Kampus kelola SPPG Badan Gizi Nasional: Inovasi baru atau sekadar duplikasi program?-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Sebuah isu: Nasional Badan Gizi Nasional mengumumkan bahwa perguruan tinggi bisa mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi alias SPPG, banyak yang bersorak. Akhirnya kampus tidak lagi jadi menara gading. Mahasiswa gizi turun ke lapangan, ahli pangan menguji resep, dan MBG dapat suplai otak sekaligus dapur.
Tapi sorakan itu cepat disusul pertanyaan kritis: ini inovasi atau sekadar duplikasi program yang sudah ada?
Pertanyaan itu penting. Karena kita bicara Rp71 triliun APBN 2026 dan 82,9 juta anak yang makannya dipertaruhkan. Salah desain, kita bukan hanya buang uang. Kita buang momentum membenahi gizi generasi.
Apa Itu Kampus SPPG?
Secara sederhana, Kampus SPPG adalah model di mana perguruan tinggi mengelola dapur MBG untuk melayani sekolah di sekitarnya. Bedanya dengan SPPG konvensional, dapur ini tidak berdiri sendiri. Ia melekat pada fakultas teknologi pangan, gizi, pertanian dan fakultas Vokasi (Perhotelan - Kuliner).
Logikanya jelas. Kampus punya tiga modal yang tidak dimiliki dapur katering biasa:
Pertama, ahli gizi dan ahli kuliner serta teknologis pangan yang bisa merancang menu sesuai standar dan selera lokal.
Kedua, jejaring riset dan pengabdian masyarakat yang bisa menyerap produk petani binaan.
Ketiga, mahasiswa sebagai tenaga kerja terlatih yang siap praktik lapangan.
Model ini sudah jalan di IPB, UGM, Unibraw, dan Unpad sejak awal 2026. Hasilnya menjanjikan. Pilot project di Malang mencatat cost per porsi Rp13.400, lebih rendah dari rata-rata SPPG nasional Rp14.200. Food waste juga turun dari 8% menjadi 5% karena menu disesuaikan lidah anak setempat.
BACA JUGA:BGN Jelaskan Soal SPPG Nonaktif Dapat Insentif Rp 6 Juta per Hari: Tidak Semua Dapat
BACA JUGA:1.700 SPPG Dibekukan BGN, APPMBGI Ungkap Dugaan Kecurangan Porsi MBG
Ide Inovasi: Kampus Membawa Nilai Tambah.
Kampus SPPG bukan sekadar dapur. Ia adalah ekosistem. Di situlah letak inovasi utamanya.
Satu, link and match riset dengan kebijakan. Ahli gizi kampus dan ahli kuliner kampus bisa uji coba fortifikasi alami pakai kelor, daun singkong, dan ikan lokal. Hasilnya langsung masuk menu MBG. Ini memotong jarak antara laboratorium dan piring anak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: