Perguruan Tinggi Kelola MBG: Kampus SPPG, Inovasi atau Duplikasi?

Perguruan Tinggi Kelola MBG: Kampus SPPG, Inovasi atau Duplikasi?

Kampus kelola SPPG Badan Gizi Nasional: Inovasi baru atau sekadar duplikasi program?-Nano Banana 2-Nano Banana 2

Dua, penguatan ekonomi lokal. Kampus biasanya sudah punya kelompok tani binaan. Ketika kampus jadi offtaker, petani dapat pasar pasti. Data lapangan di Bogor menunjukkan 120 petani sayur dan 40 peternak ayam kampung masuk rantai pasok MBG dalam 6 bulan.

Tiga, pendidikan karakter dan profesi. Mahasiswa tidak hanya belajar teori. Mereka turun menghitung cost, menjaga kebersihan, dan menghadapi komplain sekolah. MBG jadi kelas MBKM yang nyata.

Jika dilihat dari kacamata ini, Kampus SPPG adalah model desentralisasi yang cerdas. Ia memecah beban SPPG pusat sekaligus menumbuhkan kapasitas daerah.

Argumen Duplikasi: Jangan Ciptakan Birokrasi Baru.

Tapi kritik juga masuk akal. Indonesia tidak kekurangan model dapur. Kita kekurangan konsistensi mutu dan pengawasan.

Pertama, risiko tumpang tindih. Jika satu kabupaten sudah ada SPPG BGN, lalu kampus buka SPPG sendiri, siapa yang koordinasi? Jangan sampai satu sekolah dapat dua pasokan, sementara sekolah lain kosong.

Kedua, kapasitas tidak merata. Tidak semua kampus punya fakultas Vokasi (Perhotelan - Food Product/Kuliner) atau Fakultas Pangan dan Gizi, anggaran awal untuk bangun dapur standar HACCP. Kalau dipaksa, hasilnya bisa jadi dapur asal jalan. Gizi meleset, kebersihan buruk, reputasi MBG hancur.

Ketiga, beban administrasi. Kampus sudah disibukkan akreditasi, riset, dan pengajaran. Menambah fungsi produksi makanan massal bisa mengganggu Tridharma. Tanpa insentif dan SOP jelas, Kampus SPPG akan jadi beban baru bagi rektor.

Jika tidak hati-hati, kita hanya menciptakan “SPPG versi 2.0” dengan nama berbeda, tapi masalah yang sama: sentralisasi, mahal, dan jauh dari petani.

BACA JUGA:Belum Penuhi Standar, 1.780 SPPG Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan Operasionalnya

BACA JUGA:GAPEMBI Jatim Resmi Dilantik, Siap Kawal Kualitas Program Makan Bergizi Gratis di SPPG

Jawabannya Ada di Kata “Spesialisasi”

Perdebatan inovasi vs duplikasi selesai jika kita berhenti berpikir biner. Kampus SPPG tidak harus menggantikan SPPG BGN. Ia harus melengkapi dengan spesialisasi.

SPPG BGN cocok untuk wilayah urban padat. Jakarta, Surabaya, 

Medan butuh dapur besar yang melayani 5.000 siswa dalam radius 10 km. Efisiensi skala menang di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: