Damai di Atas Peluru
ILUSTRASI Damai di Atas Peluru.-Arya/AI-Harian Disway -
Satu setengah juta warga Lebanon kini hidup di kolong langit yang tidak pernah benar-benar teduh. Zona kuning buatan Israel terus melebar, sementara dunia hanya mampu mengeluarkan pernyataan keprihatinan.
Dua Ratus Ribu Tikar
Subuh belum usai, dua ratus ribu warga Beirut Selatan sadar bahwa rumah mereka bukan sekadar tempat berlindung, melainkan zona abu-abu yang tidak masuk peta perundingan. Sekolah dasar di Sidon berubah jadi hotel darurat bintang minus.
Satu ruang kelas menampung empat keluarga lengkap dengan bau susu basi, tangis bayi, dan mimpi buruk yang sama: suara drone. Seorang nenek menjual cincin kawin untuk 1 liter bensin.
Seorang bocah bertanya kepada ibunya, ”Bu, kapan kita bisa main di halaman lagi?” Sang ibu hanya bisa tersenyum getir. ”Tunggu sampai para pejabat selesai foto bersama, Nak.”
Di posko pengungsian, warga mengantre tidak untuk makan, tetapi untuk memastikan nama mereka masih tercatat sebagai penduduk, bukan sebagai angka korban. Sementara itu, di Washington para perunding menepuk bahu satu sama lain.
Mereka merasa sudah menyelamatkan dunia. Dunia mana yang mereka maksud? Mungkin dunia ruang rapat ber-AC yang tidak pernah mendengar suara sirene.
Catatan Akhir
Empat hari terakhir membuktikan satu hal: perang tidak berhenti karena perjanjian, tetapi karena salah satu pihak kehabisan peluru atau kehabisan muka.
Sampai 22 Juni nanti, warga Lebanon Selatan dan Israel Utara hanya bisa memilih antara menjadi pengungsi atau menjadi berita duka. Kita yang membaca dari jauh mungkin hanya bisa menahan getir.
Damai di atas peluru tidak pernah indah, kecuali bagi mereka yang berdagang senjata. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: