Bidan RSUD Besuki Dibunuh Suami dengan Batu: Ada Doa Korban ke Adik

Bidan RSUD Besuki Dibunuh Suami dengan Batu: Ada Doa Korban ke Adik

ILUSTRASI Bidan RSUD Besuki Dibunuh Suami dengan Batu: Ada Doa Korban ke Adik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Dasar teorinya demikian:

Secara evolusioner, pria menghadapi masalah ketidakpastian paternal. Pria tidak pernah 100 persen yakin bahwa anak yang dilahirkan istrinya adalah anak biologisnya. 

Untuk mencegah ”disusupi” oleh gen pria lain, pria mengembangkan insting mate guarding yang kuat.

Pada tingkat normal, itu berupa sikap protektif. Namun, pada pelaku patologis seperti dalam kasus sindrom Othello, sistem alarm psikologis tersebut mengalami malafungsi parah. 

Pelaku memandang segala bentuk interaksi istri –bahkan dengan saudara sepupu atau kontak acak di ponsel– sebagai ancaman eksistensial terhadap kepemilikannya. 

Suami memeriksa ponsel secara obsesif dan melacak setiap pria baru yang dikenal istrinya adalah manifestasi ekstrem dari taktik mate guarding itu.

Buss menjelaskan, bagi seorang pria dengan kecemburuan delusional, bukti konkret tidaklah diperlukan. Sebab, pikiran mereka beroperasi dengan prinsip error management theory yang ekstrem. 

Bagi mereka, lebih aman berasumsi istri berselingkuh (meskipun salah) daripada kecolongan (tidak tahu istri berselingkuh). 

Pada sindrom Othello, ambang batas alarm itu turun menjadi nol. Alarm psikologis itu error. Terus, pikiran pelaku menciptakan delusi konspiratif, di mana setiap detail kecil diinterpretasikan sebagai bukti pengkhianatan.

Kriminologi evolusioner melihat bahwa pria pembunuh istri sering kali memiliki pola pikir bahwa pasangan adalah ”hak milik”. Sebagaimana mainan di masa ia kanak-kanak dulu.

Ketika pelaku merasa kendalinya atas ”properti” tersebut terancam (ditandai paranoid bahwa istrinya akan pergi atau direbut pria lain), muncullah dorongan destruktif. Ia membunuh istri. 

Sangat ironis. Pelaku merasa memiliki istrinya sebagai hak milik kebendaan. Ia takut kehilangan benda itu. Namun, ia justru menghancurkan total apa yang paling ia takuti bakal hilang.

Di situ Buss mengajukan teori kontroversial, bahwa manusia memiliki cetak biru mental untuk membunuh (homicide adaptation theory). 

Ketika seorang pria pencemburu buta merasa martabatnya, status reproduksinya, dan kendalinya runtuh akibat perselingkuhan imajiner sang istri, sirkuit mental pembunuhan di otak pria itu aktif. 

Pembunuhan dilakukan pria sebagai bentuk hukuman pemungkas dan upaya terakhir untuk menegakkan kendali penuh. Pada saat itu kedua pihak, yakni pelaku dan korban, sama-sama hancur. Korban mati, pelaku dihukum berat. Bisa dihukum mati.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: