Butet MBG
MEGAWATI Soekarnoputri, Butet Kartaredjasa, dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas.-Arif Afandi untuk Harian Disway-
Tak pelak, Cak Lontong dan Akbar Kobar yang menjadi pranata acara punya julukan untuk mereka bertiga. ”Yang duduk di depan ini MBG: Megawati, Butet, Gusti Ratu Hemas,” katanya.
Entah karena bertemu para seniman atau GKR Hemas, Megawati tampak gembira di acara itu. Ia bercerita banyak tentang perjalanannya sebagai anak presiden yang menyukai seni.
”Banyak orang tahunya Megawati ini politisi. Padahal, sejak usia 5 tahun, saya sudah diminta ayah saya belajar tari. Ini yang membuat tulang saya tetap kuat hingga sekarang,” katanya.
Menurut Megawati, pendidikan seni adalah bagian penting dalam pembentukan karakter. Seni bukan sekadar hiburan. Seni adalah cara manusia membangun kehalusan rasa.
Ia bahkan sempat bercerita tentang seorang ahli ortopedi yang pernah mengatakan bahwa kebiasaan menari sejak kecil membuat kondisi tulangnya tetap kuat hingga sekarang.
”Jadi, jangan anggap menari itu hanya bergerak. Ada manfaatnya untuk tubuh dan jiwa,” ungkap Megawati.
Megawati lalu mengenang suasana Istana Merdeka dan Istana Yogyakarta pada masa Bung Karno. Menurut dia, istana kala itu sangat dekat dengan kehidupan para seniman.
Ada ruang untuk melukis. Ada pementasan wayang. Ada musik keroncong. Bahkan, Bung Karno sendiri sangat mencintai kesenian. ”Ayah saya hampir setiap bulan menggelar wayang,” kenangnya.
Dari situlah kecintaan Megawati terhadap seni tumbuh. Ia mengaku pernah kuliah psikologi dan banyak belajar bahwa seni memiliki hubungan erat dengan perkembangan kepribadian manusia.
Dia prihatin melihat generasi muda yang mulai jauh dari kesenian tradisional. Katanya, Indonesia membutuhkan lebih banyak sanggar budaya yang bisa menjadi tempat anak-anak belajar dan mengenal identitas bangsanya.
Dia juga menyinggung kualitas para penari masa kini. Menurut Megawati, seorang penari tidak cukup hanya menghafal gerakan. ”Menari itu harus ada ruhnya. Banyak yang gerakannya benar, tapi belum menjadi dirinya sendiri ketika menari,” ujarnya.
Ucapan tentang ”ruh” berlanjut ketika Megawati melihat satu per satu lukisan yang dipamerkan. Ia memuji karya para pelukis Jogja. ”Lukisannya bagus-bagus. Tapi, saya masih mencari ruhnya,” ujar Megawati sambil tersenyum.
Ada cerita lain yang tak kalah menarik dari pameran Mata Hati Soekarno ini. Bukan soal Megawati, Bung Karno, atau pertemuannya dengan GKR Hemas. Melainkan, bagaimana Butet membangun ekosistem kesenian yang lebih berkelanjutan.
Selama ini, persoalan utama banyak seniman bukan semata kemampuan berkarya. Indonesia tak pernah kekurangan pelukis, pematung, penari, atau perupa berbakat. Masalahnya, bagaimana karya-karya itu menemukan pasar dan para pembelinya.
Dalam bahasa ekonomi, para seniman membutuhkan offtaker. Pihak yang bersedia menyerap karya mereka sehingga proses kreatif bisa terus berlangsung. Tanpa itu, karya seni hanya berhenti di studio. Menumpuk di gudang. Menjadi kebanggaan pribadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: