Butet MBG

Butet MBG

MEGAWATI Soekarnoputri, Butet Kartaredjasa, dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas.-Arif Afandi untuk Harian Disway-

Butet paham persoalan itu. Sebagai seniman yang pengusaha, ia berada pada posisi yang tidak dimiliki banyak perupa. Ia punya jaringan sosial yang luas. Mulai kalangan seniman, budayawan, politisi, akademisi, birokrat, hingga kolektor.

Jaringan itulah yang kemudian dihubungkan dalam sebuah ruang yang sama. Pameran Mata Hati Soekarno bukan sekadar pameran lukisan. Ia menjadi semacam titik temu antara para kreator dengan calon pembeli karya. 

Dalam banyak hal, yang dilakukan Butet sesungguhnya adalah membangun rantai nilai kesenian. Ia menggerakkan para pelukis untuk berkarya dengan tema yang kuat dan memiliki relevansi historis. 

Ia menghadirkan tokoh nasional sebagai magnet perhatian publik. Ia mengundang para kolektor dan tokoh-tokoh berpengaruh untuk hadir. Lalu, mempertemukan semuanya dalam satu ruang percakapan.

Cara kerja seperti itu terlihat sederhana. Tetapi, justru di situlah kecerdasannya. Seni tidak cukup hanya diciptakan. Seni juga perlu dipertemukan dengan pasar yang menghargainya.

Suwarno, kurator pameran itu, menjelaskan, Mata Hati Soekarno  melibatkan perupa dari berbagai generasi di Jogja. Sekitar 50 seniman ikut ambil bagian. Mereka punya pendekatan berbeda-beda dalam memaknai Bung Karno.

Kekuatan pameran itu terletak pada keberagaman tafsir tersebut. Ada yang menampilkan Bung Karno sebagai proklamator. Sebagai pemimpin revolusi. Sebagai pencinta seni. Ada yang menghadirkan Bung Karno dalam pendekatan simbolis dan kontemporer.

”Bung Karno hadir dalam banyak wajah dan banyak perspektif,” ujarnya. Ia menilai, sebagian besar karya memiliki kualitas artistik yang baik. Komposisi, teknik, dan eksplorasi visual para pelukis menunjukkan kematangan yang menarik.

Karena itu, ketika Megawati menyebut sejumlah karya masih perlu memperkuat ”ruh”, ia melihatnya sebagai masukan. ”Seni memang tidak berhenti pada aspek teknis. Ada energi, karakter, dan kedalaman yang harus terus dicari oleh para perupa,” ujarnya.

Di sinilah pentingnya perjumpaan antara seniman, kurator, kolektor, dan publik. Sebab, karya seni tumbuh tidak hanya dari proses kreatif individual. Tapi, juga dari dialog yang terus berlangsung.

Butet memberikan pelajaran penting bagi kesenian. Ekosistem seni tidak bisa hanya bergantung pada kreativitas seniman. Ia butuh ruang pamer, kurator, media, kolektor, komunitas, hingga tokoh-tokoh yang bersedia menjadi jembatan.

Dalam bahasa sederhana, seniman membutuhkan panggung sekaligus pasar. Dan, Butet menunjukkan bahwa keduanya bisa dipertemukan. Mata Hati Soekarno memperlihatkan sebuah model yang layak dipikirkan lebih serius.

Bagaimana jika pola seperti itu dilembagakan? Bagaimana jika setiap kota memiliki ruang-ruang yang mampu mempertemukan seniman dengan offtaker karya mereka?

Sore itu, pertanyaan-pertanyaan besar tersebut mungkin belum terjawab. Tetapi, setidaknya sebuah contoh kecil telah diperlihatkan di Le Gareca Space.

Dua perempuan istimewa –Megawati Soekarnoputri dan GKR Hemas– berdiri berdampingan membuka pameran Mata Hati Soekarno. Di sekeliling mereka, para seniman menikmati hasil kerja panjang yang akhirnya menemukan jalannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: