Jembatan Putus di Krimea, Sate Ikan di Denpasar

Jembatan Putus di Krimea, Sate Ikan di Denpasar

ILUSTRASI Jembatan Putus di Krimea, Sate Ikan di Denpasar.-Arya/AI-Harian Disway -

Pemerintah juga megap-megap. Defisit APBN per Mei mencapai Rp180 triliun karena subsidi BBM dan listrik membengkak. Kenaikan Pertamax 32 persen membuat ongkos kirim ikan saya naik. Bank Dunia memperingatkan ruang fiskal kita menyempit. Kalau situasi global makin buruk, bersiaplah: tarif listrik naik, pajak baru datang menyapa.

Tiga Masa Depan di Atas Piring

Saya mencoba meramal sambil menyusun beberapa tusuk sate tadi di piring. Ada tiga kemungkinan ke depan.

Pertama, skenario bagus. Konflik mereda, harga minyak turun ke 70-an dolar AS, rupiah menguat ke enam belas ribuan, BI rate bisa turun lagi. Probabilitasnya? Hanya 20 persen. Jangan terlalu berharap.

Kedua, skenario sedang. Perang lanjut, tapi terbatas. Minyak main di 85 sampai 95 dolar AS, rupiah bergoyang di tujuh belas ribuan sampai delapan belas ribuan. Ekonomi melambat, tapi tidak ambruk. Peluangnya 55 persen. Itu yang paling mungkin terjadi.

Ketiga, skenario buruk. Selat Hormuz ditutup total, minyak tembus 110 dolar AS, rupiah jebol ke sembilan belas ribuan, resesi teknikal menghantui. Probabilitas 25 persen.

Saya menatap es gula yang sudah mulai mencair. Untuk skenario sedang saja, daya beli pembeli mungkin akan stagnan. Yang biasanya makan di tempat, mungkin beralih ke bungkus. Yang biasanya seminggu sekali, mungkin jadi sebulan sekali.

Sedia Payung sebelum Hujan, Sedia Bumbu sebelum Buka

Lalu, apa yang harus dilakukan? Saya belajar dari warung sate Bali dekat rumah saya ini: kalau harga ikan naik, pasti warung ini tidak bisa asal menaikkan harga jual. Pembeli kabur. Pedagang harus lebih cerdik.

Untuk keluarga, stop dulu utang konsumtif. Kartu kredit dan paylater bunganya sedang tinggi kali ini. Siapkan dana darurat enam sampai sembilan bulan pengeluaran. Taruh di deposito atau reksa dana pasar uang yang sekarang bunganya sudah di atas 6 persen. Pegang emas fisik untuk pelindung nilai. Pangkas gengsi. Tunda beli barang sekunder yang nilainya bisa merosot.

Untuk masyarakat kecil seperti saya, pegang uang tunai erat-erat. Jangan nekat ekspansi pakai utang bank baru. Cari efisiensi di mana saja. Saya mulai dengan cara berpikir dagang sate ini yang memotong porsi sate sedikit lebih kecil, tapi tetap dengan harga yang sama, karena itu lebih baik daripada menaikkan harga dan kehilangan pelanggan. Fokus pada volume, bukan margin besar.

Fondasi ekonomi kita masih lebih kokoh dibanding krisis 1998 atau 2008. Cadangan devisa tebal, perbankan sehat. Tapi, badai kali ini datang dari luar: perang, sanksi, dan kelangkaan energi. 

Pemerintah dan BI sudah merespons cepat, itu modal kepercayaan. Tapi, benteng terakhir ada di dapur Anda sendiri, seperti benteng terakhir sate ini ada di bumbu kacang yang harus tetap enak meski harga kacang tanah naik.

Pantau tiga hal setiap minggu: harga minyak dunia, kurs rupiah, dan harga beras di pasar. Kalau rupiah jebol ke 18.900 dan harga pangan melonjak, itu lampu kuning untuk segera mengamankan aset.

Saya kembali menatap sate ikan kesukaan saya yang sisa satu tusuk. Perang modern yang katanya canggih dan mikro ternyata berakhir dengan jembatan ponton, bensin ngantre, dan jenderal yang meledak di jalanan Moskow. Sulit? Memang. Tapi, begitulah dunia hari ini: sebuah tenda sate di Denpasar ternyata tersambung oleh benang tak kasatmata ke jembatan yang putus di Krimea. Siapa sangka. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: