Asal-Usul Sekhmet dan Begtse, Sosok Dewa Perang Mesir dan Mongolia di Game God of War: Laufey
Sekhmet dan Begtse di God of War Laufey.--Gamerant
HARIAN DISWAY - God of War: Laufey membawa kejutan besar bagi penggemar serial dewa pemberontak garapan Santa Monica Studio ini. Setelah bertahun-tahun berkutat dengan mitologi Yunani dan Nordik, seri ini kembali membuka pintu menuju dunia dewa baru.
Kali ini bukan hanya Kratos yang menjadi pusat cerita, melainkan Laufey atau Faye, istri Kratos yang dikenal sebagai raksasa dari bangsa Jotnar.
Dalam trailer gameplay perdana, pemain diperkenalkan dengan dua sosok dewa perang dari kebudayaan berbeda: Sekhmet dari mitologi Mesir dan Begtse dari tradisi Mongolia. Kehadiran keduanya memperlihatkan bahwa perjalanan Laufey akan melampaui batas sembilan dunia Nordik.
Sekhmet, Dewi Singa yang Membawa Kehancuran

Sekhmet Sang Dewi Singa Mesir Kuno di God of War Laufey--Gamerant
Dalam mitologi Mesir kuno,Sekhmet merupakan salah satu dewi paling ditakuti. Namanya berasal dari kata Mesir kuno yang berarti “yang kuat” atau “yang berkuasa”.
BACA JUGA:God of War: Laufey Siap Meluncur, Gameplay 20 Menit Faye di Dunia Kematian Para Dewa Pukau Gamers
BACA JUGA:Game Baru God of War: Sons of Sparta Dirilis di PS5, Cerita Masa Muda Kratos Dibuka
Sekhmet digambarkan sebagai perempuan dengan kepala singa betina. Ia merupakan putri dari dewa matahari Ra dan sering dikaitkan dengan perang, wabah penyakit, kehancuran, sekaligus penyembuhan.
Bagi masyarakat Mesir kuno, Sekhmet memiliki sifat ganda. Ia adalah penghancur yang mampu membawa bencana kepada musuh-musuh Ra, tetapi juga pelindung yang memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit.
Karena itu, para pendeta sering melakukan ritual untuk menenangkan amarahnya. Legenda terkenal tentang Sekhmet menceritakan ketika Ra mengirimnya untuk menghukum manusia yang memberontak.
Kemarahannya begitu besar hingga hampir memusnahkan seluruh umat manusia. Ra akhirnya harus menipu Sekhmet dengan minuman berwarna merah menyerupai darah agar sang dewi berhenti menyerang.
BACA JUGA:Blood Message, Game Aksi Sinematik Bergaya God of War dan Terasa Seperti Black Myth Wukong
BACA JUGA:Ronald D. Moore Siapkan God of War Versi Amazon
Di dunia God of War, Santa Monica Studio memberikan interpretasi baru. Sekhmet tampil sebagai sosok humanoid dengan kulit biru dan desain yang berbeda dari gambaran tradisional berkepala singa. Meski demikian, elemen kekuatan, dominasi, dan aura kehancurannya tetap dipertahankan.
Begtse, Dewa Perang dari Mongolia yang Brutal

Begtse, Sang Raja Perang asal Tibet di God of War: Laufey.--Gamerant
Berbeda dengan Sekhmet, Begtse berasal dari tradisi Mongolia dan Buddha Tibet. Dalam kepercayaan tersebut, Begtse dikenal sebagai sosok pelindung perang yang memiliki wujud mengerikan.
Begtse biasanya digambarkan sebagai makhluk raksasa dengan tubuh merah, wajah menyeramkan, taring besar, dan perlengkapan perang lengkap. Ia termasuk dalam kelompok pelindung Dharma, yaitu makhluk yang menjaga ajaran Buddha dari ancaman kejahatan.
Dalam beberapa tradisi, Begtse memiliki hubungan kuat dengan peperangan dan kemenangan militer. Ia bukan sekadar simbol kehancuran, tetapi juga kekuatan yang digunakan untuk melindungi kelompoknya.
BACA JUGA:Kratos God of War Pakai Zirah Titan Destiny 2, Seperti Apakah Penampakannya?
BACA JUGA:GTA 6 Belum Rilis, Atari Malah Tantang dengan Kompilasi Game Barbie
Adaptasi Begtse dalam God of War: Laufey terlihat lebih dekat dengan gambaran tradisional tersebut. Santa Monica Studio menggambarkannya sebagai monster perang bertubuh besar dengan kulit merah, gigi tajam, dan aura brutal.
Jika dibandingkan dengan Sekhmet yang lebih elegan dan strategis, Begtse terlihat sebagai kekuatan fisik murni. Ia menjadi representasi penghancur yang mengandalkan kekuatan dan intimidasi.
God of War Kembali Bermain dengan Mitologi Dunia

God of War: Laufey akan mengisahkan kisah Faye (istri Nordik Kratos) sebelum dia meninggal. --Gamerant
Kehadiran Sekhmet dan Begtse menunjukkan arah baru franchise God of War. Sejak era God of War Ragnarök, Santa Monica Studio mulai memperluas konflik Kratos dari sekadar perang melawan dewa Yunani menjadi perjalanan menghadapi berbagai kepercayaan dunia.
Namun seperti sebelumnya, adaptasi God of War tidak pernah sepenuhnya mengikuti sejarah asli. Kratos sendiri merupakan karakter fiksi yang menghancurkan ulang banyak konsep mitologi Yunani dan Nordik.
BACA JUGA:Game Stranger Than Heaven Resmi Rilis 15 Januari 2027, Kemunculan Tupac Shakur Picu Kontroversi
BACA JUGA:Apple Tambah 9 Game Baru di Apple Arcade, Family Feud Jadi Sorotan
Karena itu, perubahan desain Sekhmet bukan menjadi masalah besar bagi sebagian penggemar. Justru kebebasan kreatif tersebut dapat membuka kemungkinan cerita baru.
Bukan tidak mungkin versi Sekhmet dalam God of War: Laufey memiliki hubungan dengan dewa Mesir lain seperti Ra atau Wadjet.
Detail kecil seperti warna kulit biru dan simbol ular pada desainnya bahkan memunculkan teori bahwa Santa Monica Studio mungkin sedang menciptakan interpretasi gabungan dari beberapa figur mitologi Mesir.
Dengan masuknya Sekhmet dan Begtse, God of War: Laufey berpotensi menjadi salah satu bab paling ambisius dalam sejarah franchise. Bukan hanya menghadirkan musuh baru, tetapi juga mempertemukan legenda perang dari berbagai peradaban dalam satu dunia epik.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: