Jeda Piala Dunia

Jeda Piala Dunia

Aksi penyerang Selandia Baru, Elijah Just (kiri), ketika berebut bola dengan gelandang Iran, Saman Ghoddos (kanan). Selasa, 16 Juni 2026.--Instagram @nzallwhites

PAGI ITU saya bangun lebih awal dari biasanya. Bukan cuma untuk subuh. Juga, untuk nonton sepak bola. Selasa, 16 Juni, pukul 8 pagi waktu Indonesia. Iran melawan Selandia Baru di Stadion Los Angeles. Laga pembuka Grup G Piala Dunia 2026.

Saya bukan penggemar Iran. Saya cuma penasaran. 

Negeri itu baru saja keluar dari perang paling berat dalam sejarah modernnya. Pemimpin tertingginya tewas akhir Februari. 

Selat Hormuz mereka kuasai dan nyaris lumpuh total selama hampir empat bulan. 

Digempur Amerika Serikat (AS) dan Israel tanpa ampun.

Dan sekarang, sebelas pemainnya berdiri di rumput AS, negara yang baru saja mengebom negerinya sendiri, hanya untuk bermain bola. 

Disambut demonstrasi di luar stadion. Dijaga aparat berlapis-lapis.

Sehari sebelum laga, dalam jumpa pers, kapten Iran ditanya wartawan satu per satu. Bukan soal taktik. Bukan soal Selandia Baru. 

Semua soal Hormuz, soal perang, soal Khamenei. Sampai akhirnya ia balik menyindir: apa tidak ada yang mau bertanya soal bola saja?

Itulah Piala Dunia tahun ini. Ada jeda di tengah perang. Tapi, perangnya ikut duduk di bangku penonton.

Dan, persis di tengah jeda itu, datang kabar yang lebih besar.

Empat hari sebelum laga Iran lawan Selandia Baru, Trump mengumumkan damai.

Saya hitung-hitung dulu. Menurut catatan CNN, sejak akhir Maret sampai awal Juni, sudah tiga puluh delapan kali Trump bilang ke publik bahwa kesepakatan sudah dekat. 

Tiga puluh delapan kali lebih. Sampai orang berhenti percaya. Seperti anak gembala yang terlalu sering berteriak serigala.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: