Globalisasi Sepak Bola
ILUSTRASI Globalisasi Sepak Bola.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
SEPAK BOLA modern telah berubah dari sekadar kompetisi olahraga menjadi cermin antropologis, ekonomi, dan geopolitik dunia.
Albert Camus, filsuf eksistensialis Prancis, menyatakan bahwa sepak bola adalah miniatur kehidupan. Bagi Camus –yang pernah menjadi kiper semasa muda di Aljazair– sepak bola adalah sumber ajaran moralitas.
”Apa yang paling saya pahami mengenai moralitas dan kewajiban manusia, saya dapat dari sepak bola.” Begitu kutipan masyhur dari Camus.
Bagi Camus, lapangan sepak bola adalah bidang moralitas. Di sana manusia dinilai bukan berdasar kelas sosial atau latar belakangnya, melainkan moralitas dan kontribusinya di lapangan.
Sepak bola larger than life, ’lebih besar dari kehidupan’, karena ia merangkum emosi, perjuangan, kesetiaan, dan tragedi kemanusiaan. Jutaan orang akan tertawa bahagia bersama-sama. Jutaan orang akan menangis bersama-sama dalam duka.
BACA JUGA:Jalan Sepi Buku-Buku Olahraga dan Sepak Bola Indonesia
BACA JUGA:Ofan, Ronaldo, Torres: Karena Sepak Bola Tak Sesederhana Itu…
Sepak bola juga bisa menggambarkan dunia secara global. Jurnalis Amerika Serikat Franklin Foer menunjukkan bahwa berbagai fenomena besar dunia modern –globalisasi, nasionalisme, kapitalisme, migrasi, konflik etnis, agama, kolonialisme, hingga identitas nasional– dapat dilihat melalui sepak bola.
Ia menulis buku How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization (2004). Menurut Foer, stadion sepak bola adalah laboratorium sosial tempat perubahan-perubahan global terlihat lebih cepat dan lebih jelas.
Ia mengkaji berbagai kasus, mulai hooliganisme di Inggris, konflik etnis di Balkan, pengaruh oligarki di Rusia, hingga bagaimana pasar bebas mengubah klub-klub besar Eropa menjadi korporasi global, dan bintang-bintang sepak bola menjadi super-crazy rich dengan bayaran miliaran rupiah per pekan.
BACA JUGA:Naturalisasi Pemain Sepak Bola, Demi Prestasi atau Tren Komersialisasi?
BACA JUGA:Awal Golden Years Sepak Bola Spanyol?
Globalisasi sepak bola pada 2000-an bisa dilihat dari perpindahan pemain lintas negara, kepemilikan klub oleh investor internasional, siaran televisi global, pasar transfer internasional, dan migrasi bakat dari negara berkembang ke Eropa.
Tanpa globalisasi, kita tidak bisa menyaksikan keluarga Hartono pemilik Djarum di Indonesia bisa menjadi pemilik klub kecil Como di Liga Italia dan sekarang menjelma menjadi kejutan baru dengan lolos ke kompetisi Liga Champion tahun depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: