Globalisasi Sepak Bola

Globalisasi Sepak Bola

ILUSTRASI Globalisasi Sepak Bola.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Tanpa globalisasi, kita tidak akan melihat Erick Thohir menjadi presiden Inter Milan dan duduk sejajar dengan Massimo Moratti, oligark besar sepak bola Italia. 

BACA JUGA:Sepak Bola Tanpa Korban?

BACA JUGA:Berlusconi dan Politik Sepak Bola

Eropa menjadi pusat gravitasi sepak bola dunia, Premier League, La Liga, Bundesliga, Serie A, menjadi magnet yang menyedot talenta dari seluruh dunia. Fenomena itu seperti analogi globalisasi ekonomi ketika pusat-pusat kapital mengisap sumber daya manusia terbaik dari seluruh dunia.

Foer menemukan paradoks globalisasi. Makin global dunia sepak bola, makin kuat pula identitas lokal dan nasional. Di setiap pertandingan internasional, suporter Brasil dan suporter negara-negara Afrika selalu tampil dengan identitas nasional dan budaya yang khas.

Makin global, makin kuat identitas nasional. Para pemain internasional itu tetap lebih bangga menjadi anggota tim nasional negaranya. Tim nasional menjadi simbol kebanggaan terbesar. 

BACA JUGA:Kanjuruhan, Tragedi Sepak Bola Indonesia

BACA JUGA:”Martir” Damai Sepak Bola

Tidak peduli seberapa hebat seorang pemain, kalau ia tidak pernah mewakili negaranya di pentas Piala Dunia, ia akan merasa bukan siapa-siapa. Globalisasi tidak menghapus nasionalisme. Globalisasi justru menciptakan bentuk nasionalisme baru.

Globalisasi sepak bola telah menghasilkan pusat-pusat kekuatan baru. Selama hampir satu abad, sepak bola dunia didominasi Brasil, Argentina, Jerman, Italia, Belanda, dan Prancis. 

Globalisasi kemudian menyebarkan pengetahuan sepak bola ke seluruh dunia. Salah satu simbol kekuatan sepak bola baru adalah Maroko. Negara Maghribi itu menjadi semifinalis Piala Dunia 2022. Dan, sekarang Maroko menjadi kekuatan yang sejajar dengan Brasil maupun tim terbaik Eropa.

Dua dekade yang silam tidak ada yang menyangka Maroko bisa menjadi elite dunia. Kini Maroko menjadi model baru pembinaan sepak bola. Kekuatan utama bukan hanya liga domestik, melainkan juga jaringan diaspora global. 

Banyak pemain utama Maroko yang lahir dan berkembang di liga elite Eropa. Mereka menerima pendidikan sepak bola Eropa, tetapi memilih mewakili tanah leluhur mereka.

Dalam perspektif Foer, itu adalah bentuk globalisasi yang berbalik arah. Dulu Eropa mengimpor bakat dari bekas koloninya. Kini negara-negara bekas jajahan menggunakan diaspora untuk memperkuat identitas nasional mereka, sekaligus mengalahkan bekas penjajah.

Kasus Senegal lebih simbolis. Sebagai bekas koloni Prancis, Senegal selama puluhan tahun menjadi pemasok talenta bagi sepak bola Prancis. Namun, sekarang Senegal memiliki sistem pembinaan yang makin kuat dan jaringan pemain internasional yang luas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: