IHSG Menguat, Dana Asing Malah 'Kabur' Rp4,5 Triliun, Ini Penyebabnya

IHSG Menguat, Dana Asing Malah 'Kabur' Rp4,5 Triliun, Ini Penyebabnya

Dalam hal ini, IHSG resmi menutup sesi I perdagangan dengan terkoreksi sebanyak 45,02 poin, atau setara dengan 0,73 persen ke level 6.127,32.-Dok. Bianca/Disway.id-

JAKARTA, HARIAN DISWAY- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan lalu berhasil mencatatkan rapor positif dengan penguatan sebesar 2,82 persen ke level 6.177.

Namun, di balik tren kenaikan tersebut, terjadi fenomena outflow atau aksi jual besar-besaran oleh investor asing di pasar reguler yang mencapai nilai Rp4,5 triliun.

​Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menjabarkan, penguatan IHSG sepekan terakhir dipengaruhi oleh dinamika sentimen global dan domestik.

Secara global, keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunga acuan justru menjadi sinyal kekhawatiran baru bagi pasar keuangan.

​"Kebijakan menahan ini bukan lagi cerminan dari strategi yang penuh kehati-hatian, melainkan sebuah pengakuan tersirat bahwa inflasi jauh lebih bebal dan sulit ditaklukkan daripada yang mereka perkirakan semula," ujar David, Senin 22 Juni 2026. 

​Menurutnya, narasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher-for-longer) menjadi beban berat bagi negara-negara berkembang (emerging markets).

BACA JUGA:IHSG Diproyeksi Melemah, Reliance Sekuritas Rekomendasikan INCO hingga TINS untuk Dicermati

BACA JUGA:IHSG Mulai Hijau, Asing Kembali Masuk: Cek Saham Paling Seksi Pekan Ini

​Sementara dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) ke level 5,75 persen. David menilai langkah agresif ini memicu repricing instan pada instrumen ekuitas dan obligasi karena adanya eskalasi risiko stabilitas makroekonomi serta tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.

​Cermati Sentimen MSCI

​Memasuki pekan perdagangan 22–26 Juni 2026, IPOT mengimbau para trader dan investor untuk mewaspadai sentimen kunci terkait MSCI. Pasar sempat tertekan setelah MSCI menurunkan peringkat indikator Information Flow Indonesia dari positif menjadi negatif.

​"Penurunan tersebut dipicu catatan kritis mengenai transparansi struktur kepemilikan saham (free float) dan indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi," jelasnya.

​Meski sempat muncul kekhawatiran downgrade menjadi Frontier Market, David menilai fondasi pasar Indonesia masih cukup kuat untuk menjaga optimisme aset berisiko.

BACA JUGA:BI Rate Dinilai Masih Perlu Naik ke 6,25 Persen untuk Stabilkan Rupiah

BACA JUGA:Ekonom Universitas Ciputra Dorong Pemerintah Segera Turunkan Harga BBM Nonsubsidi

​Menyikapi dinamika pasar tersebut, IPOT merekomendasikan sejumlah emiten dan instrumen untuk dicermati investor selama sepekan ke depan:

​PT Gudang Garam Tbk (GGRM): Buy on Breakout. Entry di 17.475, target harga 19.000, stop loss di 16.600. ​

PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI): Buy on Breakout. Entry di 1.520, target harga 1.630, stop loss di 1.470. ​

PT Darma Henwa Tbk (DEWA): Buy on Pullback. Entry di 358-362, target harga 400, stop loss di 340.

Untuk investor obligasi, PBS 038 menjadi pilihan menarik dengan kupon 6,87 persen per tahun dan yield 7,17 persen di tengah kondisi 10 year yield Indonesia di level 7,07 persen.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: