NU Bukan Nahdlatul Umara
ILUSTRASI NU Bukan Nahdlatul Umara.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
KALI INI saya tidak bisa hadir ke Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Ploso, Kediri. Padahal, saya selalu tak ingin melewatkan acara besar NU, baik dulu sebagai wartawan maupun kini sebagai penggembira.
Apalagi, dinamika munas dan konbes jelang muktamar ini sangat menarik. Ada tarik-menarik yang sangat kuat antar kekuatan politik untuk mengendalikan NU. Baik kekuatan politik yang dilahirkan NU maupun kekuatan politik besar yang ingin mengooptasinya.
NU memang layak diperebutkan. Bagi siapa saja yang ingin berkuasa di negeri ini. Karena jumlah warganya yang besar, pengaruhnya di akar rumput, dan peran historis yang tak bisa dipisahkan dengan perjalanan negeri ini. Mengendalikan NU ibarat menguasai lebih dari setengah negeri ini.
BACA JUGA:Rumah Besar NU
BACA JUGA:Mikrolet NU
Apalagi, NU merupakan organisasi kemasyarakatan yang longgar secara organisasi (jam’iyah), tapi kuat sekali secara kultural (jamaah). Pengikatnya lebih kepada otoritas moral para kiai ketimbang disiplin organisasi. Toh demikian, NU sebagai organisasi tetap eksis lebih seabad hingga kini.
Menarik mengikuti dinamika NU. Mengapa ormas Islam terbesar di Indonesia –bahkan dunia– ini begitu lentur menghadapi perubahan, tetapi kokoh menghadapi tekanan? Mengapa berbagai upaya untuk mengendalikan NU justru sering berujung pada kegagalan?
Tentu banyak teori sosiologi dan politik yang bisa menjelaskannya. Namun, penjelasan yang paling sederhana, sekaligus paling dalam, seperti yang berulang kali disampaikan Ketua Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri atau Gus Mus: ”NU itu milik Gusti Allah. Karena itu pasti dijaga-Nya.”
BACA JUGA:Kelas Baru NU
BACA JUGA:Tongkat NU
Kalimat sederhana itu ternyata menemukan pembenarannya dalam sejarah. Dan, itu sudah terbukti dalam sejarah panjang perjalanan ormas Islam yang didirikan Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari tersebut. Terbukti melalui cara yang terkadang sulit dijelaskan melalui kalkulasi politik rasional dan teori yang ada.
Saya pernah menjadi saksi bagaimana NU ”diselamatkan” dari upaya menjadikannya bagian langsung dari kekuasaan. Saat NU dipimpin KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam Muktamar Ke-29 NU di Ponpes Cipasung, Tasikmalaya, ketika Presiden Soeharto masih berada di puncak kekuasaannya.
Waktu itu Gus Dur menghadapi tekanan yang sangat besar. Ada upaya sistematis untuk menggantikannya dengan figur yang lebih dekat dengan kekuasaan. Bahkan, Gus Dur sempat diisolasi secara politik dan tidak diberi kesempatan berpidato pada pembukaan muktamar yang dihadiri Presiden Soeharto.
BACA JUGA:NU Baru
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: