Mikrolet NU
ILUSTRASI Mikrolet NU.-Arya/AI-Harian Disway -
ADA arus baru di NU tingkat bawah. Apa itu? Pergeseran standar kebanggaan mereka. Standar kebanggaan yang berubah. Dari sekadar kebanggaan komunal dan ritual menjadi kebanggaan prestasional dan profesional.
Kok bisa? Ya. Paling tidak, itulah yang bisa saya rasakan ketika dua hari bergumul dengan para tokoh NU di Blitar. Bersama para tokoh NU di kota itu, saya sedang menyiapkan transformasi UNU Blitar yang berdiri sejak 10 tahun lalu.
Kebetulan saya mendapat tugas baru yang menantang dari PBNU. Menjadi ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNU Blitar. Bersama para kiai dan tokoh-tokoh profesional nahdliyin di kota itu. Ada para profesor, kiai, dan Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin.
Karena itu, momentum Lebaran ini saya gunakan bersilaturahmi sambil konsolidasi. Saya bertemu tokoh-tokoh inti. Menyerap aspirasi dan berbagi frekuensi. Untuk bersama mengelola aset NU itu menjadi kebanggaan baru ke depan. Juga, kebanggaan warga Blitar.
BACA JUGA:Kelas Baru NU
BACA JUGA:Tongkat NU
Pertemuan maraton. Begitu tiba, saya langsung bertemu Rais Syuriah PCNU Blitar KH Ardani dan Ketua PCNU Muqorrobin. Langsung rapat dengan Dewan Pengurus Harian BPP. Hari berikutnya disambung dengan rapat gabungan bersama dewan pembina dan pengawas di rumah dinas wali kota Blitar.
Dari situlah saya menangkap arus perubahan tersebut. Saya langsung teringat pidato Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Ia bilang bahwa bukan saatnya NU membuat sesuatu karena orang lain punya. Misalnya, membuat universitas karena Muhammadiyah punya universitas.
Mungkin masih ada pengurus NU yang termotivasi membuat program baru karena ingin menyamai program organisasi lain. Tentu hal tersebut tidak salah. Bukankah dalam kebaikan kita didorong untuk berlomba-lomba? Apalagi, NU dikenal ormas Islam yang telah punya modal sosial kuat.
Akan menjadi masalah kalau memiliki sesuatu tanpa diikuti kemampuan untuk mengelolanya secara baik. Menjadi masalah kalau sekadar punya. Apalagi, sampai punya sesuatu yang hidup susah, mati pun enggan. La yamutu wal yahya, ’ora mati lan ora urip’.
BACA JUGA:NU Baru
BACA JUGA:Tali Jagat NU
Saya menangkap spirit tidak sekadar punya itu menggelora di pimpinan NU Blitar. ”Benar bahwa UNU Blitar sekarang ibaratnya masih seperti mikrolet. Tapi, kita harus punya semangat ke depan tidak hanya menjadi mikrolet. Tetapi, menjadi bus Mercedes-Benz,” kata Kiai Ardani, membangun tamsil.
Saya senang sekali analogi mikrolet itu. Dari mikrolet ke Mercy. Yang keluar dari seorang kiai. Pengasuh pondok pesantren alumnus Al-Falah, Ploso, Kediri. Salah satu pondok terbesar dan tua di Indonesia. Yang alumni santrinya telah menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Seperti halnya Ponpes Lirboyo, Kediri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: