Mikrolet NU
ILUSTRASI Mikrolet NU.-Arya/AI-Harian Disway -
Pusat legitimasi di dalam NU kini juga bergeser. Dulu kiai merupakan pusat legitimasi utama. Kini makin banyak sumber otoritas seperti kampus, pasar, negara, dan digital. Akibatnya, kebanggaan tidak lagi hanya dari kedekatan dengan kiai. Tapi, juga posisi, jaringan, dan kompetensi.
Seiring dengan adanya revolusi digital dan sistem ekonomi, logika pasar makin masif masuk paradigma berpikir warga nahdliyin. Hal itu diikuti dengan makin banyaknya program pemberdayaan yang menyentuh mereka. Semua itu mendorong lahirnya kebanggaan baru berupa prestasi ekonomi.
Capaian kelompok sosial lain yang lebih dulu maju ikut mendorong bergesernya standar baru NU tersebut. Semua orang tahu bahwa Muhammadiyah dan kelompok agama lain telah lebih dulu besar secara kualitatif. Itu mendorong spirit bahwa NU juga harus unggul, bukan hanya besar secara jumlah.
Tentu perubahan baru itu tak akan menggantikan secara total standar kebanggaan lama. Tapi, lebih menjadi lapis baru yang terus menggelembung di NU.
Lapis baru itu adalah mereka yang bangga bukan hanya karena runtang-runtung bersama. Tapi, kebanggaan karena keberhasilan. Komunalitas dan ritual tetap ada sebagai akar budaya. Tapi, prestasi dan profesionalitas makin kuat.
Yang pasti, jika tadinya saya masih skeptis bisa mendorong perubahan lewat amanah baru, kini makin bersemangat. Sebab, arus perubahan itu terasa sangat kuat di akar rumput NU.
Bahkan, termasuk para kiai yang dahulu menjadi otoritas utama NU. Rasanya ke depan makin banyak kiai NU plus yang progresif. Kiai yang tak nyaman hanya naik mikrolet. Mereka segera ingin UNU Blitar segera naik sekelas Mercy. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: