Mikrolet NU

Mikrolet NU

ILUSTRASI Mikrolet NU.-Arya/AI-Harian Disway -

Hal yang sama terucap dari wali kota yang juga dewan pembina BPP UNU Blitar. Wali kota muda yang santri. Ia ingin UNU Blitar menjadi salah satu ikon kota. Menjadi bagian penting dari pembangunan kota. Yang berdampak nasional. Tak hanya memberikan manfaat kepada warga kota. Tapi, juga untuk seluruh bangsa.

Itu hanya sebagian kecil indikator perubahan standar di kalangan santri. Mereka tidak ingin hanya mempunyai program yang berhenti pada output. Tapi, juga sudah berpikir sampai pada outcome. Output adalah hasil langsung jangka pendek, sedangkan outcome adalah dampak atau manfaat.

BACA JUGA:NU Adalah Asosiasi Ulama

BACA JUGA:Suara NU-Gereja

Spirit dan standar baru itu jelas modal besar untuk membangun institusi. Modal kuat untuk melangkah menuju transformasi UNU Blitar. Yang digambarkan sekarang baru ”kelas mikrolet” menuju perguruan tinggi berkelas ”bus Mercy”. Yang bisa mengangkut warga nahdliyin menuju tempat baru dengan nyaman.

Saya beberapa kali memimpin transformasi kelembagaan di perkumpulan usaha dan korporasi. Kuncinya, ada kesamaan visi di puncak kepemimpinan. Juga, pemilik lembaga tersebut. Ketika semua stakeholder utama memiliki ”mimpi” yang sama, proses transformasi alias perubahan akan lebih cepat menjadi kenyataan.

Kita semua tahu, dulu standar kebanggaan warga nahdliyin lebih bersifat komunal dan ritual. Di NU, tadinya kebanggaan lebih bersifat kolektif dan kultural. Misalnya, ikut tahlilan, yasinan, dan maulidan. Bangga karena aktif di kepengurusan NU dan banomnya. Bangga karena dekat dengan kiai atau pesantren dan punya amaliah NU.

Ukurannya terlibat dalam komunitas, setia pada tradisi, dan seberapa dekat dengan simbol-simbol NU. Puncak kebanggaan warga nahdliyin lebih kepada kesenangan untuk berkumpul, nyambung, dan ikut tradisi. Makanya, dalam tiga dekade lalu, istighotsah akbar yang bisa menghadirkan jutaan massa dianggap sebagai prestasi.

Seiring dengan mobilitas sosial dan ekonomi warga NU, standar kebanggaan ternyata tak lagi bersifat komunal dan kultural. Tapi, lebih kepada kebanggaan prestasional dan profesional. Sekarang makin banyak orang NU yang berteriak: saya bangga menjadi NU karena berprestasi dan punya kapasitas.

Mereka bangga jadi dokter NU, pengusaha NU, dan akademisi NU. Bangga punya karya, bisnis, dan jabatan profesional. Bangga membawa nama NU di level nasional dan global. Bangga karena ”punya impact”, bukan sekadar ikut kegiatan. Ukuran bangga jadi bergeser: prestasi (achievement), keahlian (skill/profesi), dampak nyata (impact ekonomi/sosial).

Ada banyak hal yang menyebabkan pergeseran standar ”mimpi” di akar rumput NU itu. Misalnya, tekanan ekonomi sehari-hari, pendidikan yang makin terbuka, paparan media sosial, fragmentasi otoritas kiai, masuknya logika pasar, dan kompetisi antarkelompok. Semuanya merupakan sesuatu yang jamak dalam perubahan sosial.

Hidup makin mahal dan lapangan kerja yang makin kompetitif membuat orang tak hanya cukup hanya aktif dalam organisasi. Mereka butuh penghasilan yang cukup, keterampilan, dan mobilitas ekonomi. 

Identitas NU tak lagi simbolis dan harus diikuti kapasitas. Itu karena banyak anak NU kuliah lintas bidang dan akses beasiswa, kampus, dan pelatihan yang meningkat.

Paparan media ikut mendorong perubahan selera dan standar hidup. Warga nahdliyin yang mayoritas hidup di desa makin sering disuguhi kisah pengusaha sukses, profesional muda, dan tokoh publik. 

Itu membuat standar sukses ikut berubah. Dari sekadar aktif di kampung menjadi punya capaian yang terlihat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: