Gebyar Piala Dunia dan Pembelajaran Multikulturalisme

Gebyar Piala Dunia dan Pembelajaran Multikulturalisme

ILUSTRASI Gebyar Piala Dunia dan Pembelajaran Multikulturalisme.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PERGELARAN Piala Dunia FIFA edisi ke-23 telah dimulai pada 11 Juni 2026 dan diakhiri nanti pada 19 Juli 2026. Pertandingan digelar di 16 kota yang tersebar di tiga negara Amerika Utara yang menjadi tuan rumah bersama, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. 

Sebanyak 48 tim sepak bola mewakili negara masing-masing unjuk kekuatan menjadi yang terbaik. Setiap pemain pasti berlaga dengan sepenuh hati untuk meraih kemenangan demi martabat bangsanya. 

Hal itu berarti perhelatan Piala Dunia penting menumbuhkan spirit nasionalisme. Apalagi, sesaat sebelum pertandingan, setiap tim yang akan berlaga memperoleh kesempatan untuk menyanyikan lagu kebangsaan. 

Pada saat itulah, semangat juang dan patriotisme dikobarkan. Nilai-nilai nasionalisme dipertontonkan di hadapan penonton yang hadir di lapangan maupun pemirsa yang menyaksikan melalui tayangan televisi atau media sosial. 

BACA JUGA:Psikososialnya Piala Dunia: Dari Gegap Gempita Penonton ke Polarisasi Pendukung Tim

BACA JUGA:Jeda Piala Dunia

Yang jarang diamati, permainan sepak bola sejatinya juga memberikan pelajaran berharga untuk menginternalisasi nilai-nilai multikulturalisme. 

Melalui permainan sepak bola, setiap pemain dengan berbagai latar belakang etnis, budaya, dan agama dipersatukan menjadi satu tim. Perbedaan latar belakang sosial di antara pemain bukan halangan untuk menjadi satu tim yang kompak dan tangguh. 

Pada konteks itulah, pertandingan sepak bola dapat menjadi media yang efektif untuk menciptakan pembauran budaya (melting pot) sekaligus ruang pertemuan (meeting pot) antarwarga bangsa. Slogan resmi Piala Dunia 2026, We Are 26, juga relevan untuk dijadikan spirit menumbuhkan multikulturalisme. 

Slogan itu penting untuk mewujudkan persatuan dan perdamaian. Apalagi, Piala Dunia tahun ini digelar dalam suasana ketegangan akibat peperangan yang memilukan nilai-nilai kemanusiaan.  

BACA JUGA:Mafia Bola dan Piala Dunia

BACA JUGA:Kritik Ronaldo Egois di Piala Dunia 2026, Francisco Conceicao: Kami Tak Wajib Oper Bola ke Dia!

Tiga negara tuan rumah, 48 kontestan yang akan berlaga, dan penonton dari seluruh penjuru dunia diajak untuk menikmati perhelatan Piala Dunia dengan semangat persatuan dan perdamaian. 

Melalui pertandingan sepak bola, kita memperoleh pelajaran bahwa perbedaan latar belakang sosial, bahkan politik sekalipun, bukanlah halangan untuk mewujudkan harmoni dalam kehidupan yang majemuk. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: