Gebyar Piala Dunia dan Pembelajaran Multikulturalisme

Gebyar Piala Dunia dan Pembelajaran Multikulturalisme

ILUSTRASI Gebyar Piala Dunia dan Pembelajaran Multikulturalisme.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Teori Penampakan Wajah

Dalam memahami kekhasan etnis, budaya, dan agama, selayaknya kita belajar pada pandangan filsuf Prancis, Emmanuel Levinas, dalam karya besarnya, Otherwise than Being or Beyond Essence (1974). Dalam karya itu, Levinas mengenalkan teori tentang penampakan wajah yang lain (face of the other). 

Dikatakan Levinas, wajah yang lain itu jelas berbeda dari aku. Namun, hubungan aku dengan wajah yang lain tidak boleh melahirkan kekerasan atau penindasan. 

Sejalan dengan pandangan Levinas, semua agama mengajarkan bahwa menyakiti orang lain sama halnya menyakiti diri sendiri. Begitu sebaliknya, menyayangi orang lain sama dengan menyayangi diri sendiri. 

Kehadiran orang lain justru harus melahirkan kedamaian dan menumbuhkan kultur positif dalam kehidupan. Melalui teori penampakan wajah akan senantiasa tergambar yang lain. 

Penampakan wajah yang lain memungkinkan antarpribadi saling bertegur sapa, bersenda gurau, dan berbela rasa. Penampakan wajah yang lain tidak akan membiarkan seseorang lepas dari tanggung jawab. 

Pada konteks itulah, teori Levinas mengajarkan bahwa perjumpaan dengan wajah yang lain merupakan bentuk hubungan yang ditandai kepedulian dan kecintaan pada nilai-nilai kemanusiaan. 

Hubungan itu menyebabkan seseorang bertanggung jawab terhadap yang lain tanpa menuntut imbalan alias nir-kepentingan.

Dalam perspektif Islam, Nabi Muhammad SAW menegaskan, ”al-mu’minu lil mu’mini kal bunyan yasyuddu ba’dluhu ba’dla” (seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain). Ibarat batu bata yang disusun untuk menopang satu sama lain hingga menjadi bangunan kokoh, begitulah hubungan satu mukmin dengan mukmin lainnya. 

Sepak Bola dan Multikulturalisme

Nilai-nilai multikulturalisme terasa sekali dipraktikkan dalam permainan sepak bola. Semua pemain bahu-membahu dan saling membantu sehingga tidak tampak budaya yang mendominasi. 

Ekspresi yang menunjukkan rasa syukur setiap pemain tatkala memperoleh kesempatan bermain atau mencetak gol juga sangat beragam. Semua ekspresi terasa spontan, autentik, dan dihargai sebagai kekhasan budaya masing-masing pemain atau negara.

Dalam diri setiap pemain juga ada kesadaran untuk bermain dengan menjunjung tinggi sportivitas. Tidak boleh ada kekerasan satu pemain terhadap pemain lain. 

Apalagi, kekerasan itu dilandasi emosi berlatar perbedaan agama, etnis, budaya, atau faktor primordial lainnya. Hukuman bagi pelaku kekerasan sangat jelas, diberikan peringatan atau dikeluarkan dari lapangan pertandingan.

Penonton dapat menikmati pertandingan dan memberikan dukungan penuh kepada tim kesayangan. Meski sejujurnya harus diakui bahwa antar pemain dan penonton sejatinya memiliki perbedaan ideologi maupun sosial budaya. Semua itu menunjukkan betapa penting permainan sepak bola sebagai media untuk menumbuhkan kesadaran multikulturalisme. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: