Jelang Presentasi SURADAYA, Peserta Ditantang Imajinasikan Surabaya 2100 di Workshop AI

Jelang Presentasi SURADAYA, Peserta Ditantang Imajinasikan Surabaya 2100 di Workshop AI

Jelang presentasi Suradaya, workshop AI dimentori oleh Clement Caignart dari Prancis dan Jakob Vicari asal Jerman pada 24 Juni 2026 di FISIP UNAIR Surabaya. - Ilmi Bening - Harian Disway

HARIAN DISWAY - Proyek internasional SURADAYA akan diluncurkan dalam kegiatan yang dihadiri oleh para mentor, peserta, serta mitra dari Indonesia, Prancis, dan Jerman. 

Proyek tersebut akan menampilkan hasil dari workshop atau pelatihan yang diselenggarakan selama beberapa minggu.

SURADAYA merupakan proyek yang menekankan kesadaran kritis terhadap tantangan menghadapi misinformasi. Yakni melalui pendekatan visual, dokumenter, dan digital storytelling

Wisma Jerman dengan Institut français d'Indonésie (IFI) menggelar workshop sebelum presentasi proyek SURADAYA. Ada sekitar 12 orang yang mengikuti program workshop ini. Hasil akhirnya juga akan dipamerkan di Orasis Art Space,” ujar Dhahana Adi Pungkas, Asisten Program Budaya Wisma Jerman.

BACA JUGA:Road to Seriale di Wisma Jerman Surabaya Jadi Ruang Diskusi, Refleksi, dan Kolaborasi

BACA JUGA:Ngabuburit di Wisma Jerman Surabaya, Nonton Film Komedi Hello Again

Latar belakang peserta workshop tidak hanya mahasiswa. Ada juga yang hobi membuat konten. Pun, mereka yang berprofesi di bidang fotografi hingga berkarya di bidang media. Sedangkan pemateri atau mentor didatangkan langsung dari Indonesia, Jerman, dan Prancis.

Kegiatan tersebut dilatarbelakangi inisiatif Wisma Jerman dan IFI Surabaya. Keduanya melihat bahwa Surabaya memiliki sudut pandang kota yang berbeda. Yang mungkin belum pernah terpikirkan atau diperhatikan oleh banyak orang.


Clement Caignart dari Prancis memandu workshop secara offline, sedangkan Jakob Vicari asal Jerman mengisi materi secara online. - Ilmi Bening - Harian Disway

“Sejalan dengan kajian perkotaan, kami ingin para peserta menggali makna dari kota ini. Workshop series berlangsung pada 2-26 Juni 2026. Pelatihan minggu pertama diisi oleh Idealita Ismanto dan Mamuk Ismuntoro, mentor dari Indonesia,” ungkap Dhahana.

Di minggu pertama, peserta memperoleh gambaran Surabaya. Mereka mempelajarinya dari arsip maupun dokumen bersejarah. Kemudian, pada minggu berikutnya, pelatihan dipandu oleh mentor asal Jerman Kai Loeffelbein.

BACA JUGA:Pekan Francophonie di Auditorium IFI Surabaya, Landak Ingatkan Tak Sembarangan Menilai Orang

BACA JUGA:Body Switch Tampilkan Tari Kontemporer di IFI Surabaya, Angkat Pesan Identitas dan Kehidupan

Bersama dengan Kai, para peserta belajar tentang cara memproduksi karya fotografi dokumenter. Mereka diajak mencari objek menarik di Surabaya. Yang selama ini mungkin dianggap remeh tetapi ternyata memiliki makna.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: