Ketika Salam 'Ayo Rek Jogging' Berubah Jadi Sinyal Cuan

Ketika Salam 'Ayo Rek Jogging' Berubah Jadi Sinyal Cuan

Bisnis Itu Seperti Marathon: Pelajaran Manajemen di Balik Tren Jogging.-Nano Banana 2-Nano Banana 2

Ayo rek jogging. Kalimat itu sekarang seperti menjadi salam pagi di banyak grup WhatsApp. Ada yang menulisnya sambil bercanda. Ada yang serius. Ada yang langsung membuat undangan: kumpul jam lima pagi, titik temu di lapangan, setelah itu sarapan bersama. 

Dulu ajakan olahraga sering terasa berat. Sekarang berbeda. Jogging menjadi acara sosial. Menjadi alasan bertemu teman lama. Menjadi ruang bercanda. Menjadi panggung kecil untuk menunjukkan bahwa hidup sehat itu bisa dilakukan bersama-sama.

Di Surabaya gejalanya sangat mudah dilihat. Datanglah ke Lapangan KONI, Lapangan Thor, Bogowonto, atau ruang terbuka lain pada pagi atau sore hari. Hampir selalu ada kelompok orang yang sedang berlari kecil, berjalan cepat, pemanasan, atau sekadar bercengkerama setelah berkeringat. Seragam mereka sering sama. Warnanya kompak. Kadang tertulis nama sekolah, alumni, kantor, komunitas, atau angkatan pensiunan.

Dari situlah terlihat satu hal penting: jogging bukan lagi sekadar olahraga. Jogging telah menjadi gaya hidup. Bahkan, dalam bahasa pemasaran, jogging sudah menjadi pasar. 

Pasar ini menarik karena lahir dari kebutuhan yang sangat manusiawi: ingin sehat, ingin bugar, ingin punya teman, ingin terlihat aktif, dan ingin tetap muda. Jogging dapat dilakukan siapa saja. Pelajar bisa. Mahasiswa bisa. Pekerja kantoran bisa. Ibu rumah tangga bisa. Lansia pun bisa menyesuaikan kemampuan. Tidak perlu lapangan khusus. Tidak perlu alat mahal. Tidak perlu lawan tanding. Cukup sepatu, niat, dan sedikit disiplin.

BACA JUGA:Catatan dari Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 (1): Menggugat Neoliberalisme, Membangun Kemandirian Bangsa

BACA JUGA:Polarisasi dan Industri Kemarahan: Ketika Demokrasi Kehilangan Percakapan

Tetapi justru dari kesederhanaan itu muncul peluang ekonomi yang besar. Orang yang awalnya hanya ingin mencoba lari biasanya mulai membeli sepatu. Setelah itu membeli kaus yang nyaman. Lalu celana running. Kaus kaki. Topi. Botol minum. Jam tangan pintar. Earphone. Tas kecil. Minuman elektrolit. Vitamin. Bahkan mendaftar fun run.

Di sinilah pasar jogging menjadi menarik bagi pelaku usaha. Kebutuhannya tidak berhenti pada satu kali pembelian. Sepatu lari memiliki usia pakai. Kaus olahraga perlu diganti. Kaus kaki cepat aus. Topi mengikuti tren. Minuman isotonik dibeli berulang. Energy gel dan suplemen dikonsumsi berkala. Event lari membuat peserta ingin tampil lebih siap dan lebih percaya diri. 

Dengan kata lain, jogging menciptakan pembelian berulang. Ini adalah impian banyak pemasar.

Lebih menarik lagi, keputusan membeli dalam dunia jogging sering dipengaruhi komunitas. Satu orang membeli sepatu merek tertentu, anggota lain bertanya. Satu orang memakai smartwatch, yang lain ikut membandingkan. Satu komunitas memakai jersey seragam, maka ada peluang produksi puluhan bahkan ratusan potong. Satu event lari digelar, maka pedagang sepatu, apparel, minuman sehat, makanan ringan, hingga fotografer olahraga ikut bergerak.

Pasarnya bukan hanya barang. Ada juga jasa. Pelatih lari, running clinic, program penurunan berat badan, konsultasi nutrisi, aplikasi pelacak aktivitas, coaching online, event organizer, sampai paket wisata lari. Semua bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana bernama jogging. 

Bagi mahasiswa manajemen, fenomena ini menarik untuk dibaca sebagai perubahan perilaku konsumen. Masyarakat sekarang tidak hanya membeli produk karena fungsi. Mereka membeli pengalaman. Mereka membeli rasa percaya diri. Mereka membeli identitas. Orang tidak hanya membeli sepatu lari, tetapi juga membeli semangat untuk menjadi pribadi yang lebih sehat. Mereka tidak hanya membeli jersey komunitas, tetapi membeli rasa memiliki.

Karena itu strategi penjualannya juga tidak boleh biasa. Toko olahraga tidak cukup hanya memajang sepatu. Ia perlu membuat komunitas. Mengadakan latihan bersama. Memberi edukasi memilih sepatu sesuai bentuk kaki. Menyediakan konten tips lari di media sosial. Membuka booth di acara fun run. Memberi diskon khusus komunitas. Menjadi sponsor kecil bagi kegiatan lokal.

Pelaku usaha kecil pun bisa masuk. Tidak harus langsung menjadi produsen besar. Bisa mulai dari membuat jersey komunitas, menjual botol minum, menyediakan snack sehat, membuka jasa dokumentasi event, membuat desain medali, memproduksi merchandise, atau menjadi reseller perlengkapan jogging. Yang penting memahami bahwa pasar ini sangat dekat dengan emosi komunitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: