Catatan dari Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 (5): Statecraft, Deep State, dan Negara yang Dibajak

Catatan dari Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 (5): Statecraft, Deep State, dan Negara yang Dibajak

ILUSTRASI Catatan dari Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 (5): Statecraft, Deep State, dan Negara yang Dibajak.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Maka, perlakuannya harus berbeda. Statecraft harus diperkuat. Deep state harus dibongkar tanpa merusak negara. State capture harus dicegah sejak pintu pertama: pendanaan politik, lobi kebijakan, konflik kepentingan, pengadaan, perizinan, dan penyusunan regulasi.

Di sinilah kampus memiliki tugas moral. Kampus jangan hanya menjadi ruang tepuk tangan. Kampus harus menjadi radar. Ia harus membaca masa depan, mendeteksi pembajakan negara, dan memastikan pembangunan tidak berhenti sebagai pidato.

Kampus juga harus menjaga jarak sehat dengan kekuasaan. Dekat untuk memberikan masukan. Cukup jauh untuk tetap kritis.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kurang adalah jembatan antara kepintaran dan keputusan. Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Yang sering kurang adalah tata kelola. Negara harus kuat, tetapi tidak boleh gelap. Negara harus cepat, tetapi tidak boleh dibajak. Negara harus strategis, tetapi strategi itu harus untuk rakyat.

Di situlah kemandirian ekonomi dimulai. Bukan dari istilah asing yang terdengar gagah. Melainkan, dari keberanian memastikan negara tetap menjadi milik publik: bukan milik jaringan tersembunyi, bukan milik pemodal tertentu, dan bukan milik siapa pun yang ingin membajaknya. (*)

*) Suryanto adalah guru besar psikologi social, Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, dan rektor Universitas 45 Surabaya 2025–2029.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: