Sebatik Malaysia-Indonesia: Perbatasan yang Tanpa Sekat
PATOK perbatasan Malaysia-Indonesia.-Istimewa-
Kehidupan yang cair di daerah daratan perbatasan menjadi kian tidak bersekat lagi di lautan. Karena makin maraknya pembibitan rumput laut, nelayan Malaysia sering kali melaut sampai masuk ke wilayah laut Indonesia dan begitu pula sebaliknya karena batas laut yang tidak jelas.
Andi Fajrul Syam, anggota DPRD Kabupaten Nunukan yang sempat ditemui rombongan Unair, mengatakan bahwa persoalan laut sering kali didasari oleh ego sektoral dari masing-masing instansi yang menaungi pemanfaatan ruang laut.
Instrumen hukum dari kedua negara (Malaysia-Indonesia) sebenarnya sudah ditata dengan baik, tetapi masih ada kebijakan-kebijakan lain yang menjadi faktor penentu dalam implementasi kebijakan.
Profesor Sarkawi B. Husain, guru besar ilmu sejarah Universitas Airlangga yang merupakan bagian dari rombongan WUACD, menyarankan perlunya para instansi untuk duduk bersama memikirkan masterplan laut. Jika masing-masing pemerintah di daerah perbatasan memiliki masterplan darat, perlu dipikirkan juga untuk menyusun masterplan laut.
Dengan mengutip teori caring capacity, Sarkawi menyarankan kepada pemerintah terkait untuk mulai memikirkan juga seberapa besar penduduk yang mampu ditampung oleh Sebatik sebagai sebuah pulau agar tidak terjadi tumpang tindih di daratan maupun di lautan.
Pemandangan laut di sekitar Sebatik memang membuat terpana. Hal itu pula yang membuat kami merasa bahwa kami harus kembali. Di samping keindahan alamnya, kami merasa Sebatik dengan berbagai persoalannya layak untuk diperhatikan.
Masyarakat Pulau Sebatik memang sudah hidup dengan tenang dan sederhana. Mereka tidak menganggap perbatasan sebagai kendala untuk bisa saling bekerjasama. Toh, yang tinggal di ujung perbatasan adalah saudara-saudara mereka juga.
Bagi penduduk Pulau Sebatik, tidak ada istilah ”kami” atau ”mereka”. Penduduk di kedua wilayah melebur dalam aktivitas yang saling melengkapi tanpa curiga mencurigai. Akan tetapi, kebersahajaan mereka tidak berarti kehidupan mereka tidak perlu dikembangkan.
Atensi yang lebih intensif dari pemerintah diperlukan untuk keberlangsungan Pulau Sebatik di masa depan. (*)
*) Layli Hamida, Lina Puryanti, dan Sarkawi B. Husain adalah para staf pengajar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: