Sebatik Malaysia-Indonesia: Perbatasan yang Tanpa Sekat

Sebatik Malaysia-Indonesia: Perbatasan yang Tanpa Sekat

PATOK perbatasan Malaysia-Indonesia.-Istimewa-

MATAHARI mulai meninggi dari timur. Pancaran kecantikannya seakan mengantarkan kepulangan kami dari Pulau Sebatik menuju ke Tawau untuk kemudian terbang kembali ke Surabaya. Kami menaiki speed dari Pangkalan Sungai Melayu di pagi buta. Suasana laut yang segar berpadu dengan lukisan awan di langit yang indah membuncahkan rasa bahagia dalam hati kami. 

Perjalanan naik speed menuju Pelabuhan Tawau berlangsung sekitar 20 menit. Harga yang kami harus bayar untuk perjalanan itu adalah RM 120. Kami boleh bayar dengan ringgit atau rupiah. 

Sepekan sebelumnya, rombongan kami datang ke Sebatik juga melewati Sungai Aji Kuning, lalu sampai di patok perbatasan Malaysia- Indonesia. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami singgah di warung yang ada di patok perbatasan tersebut untuk melepas dahaga. 

BACA JUGA:Perjumpaan Ilmu Pengetahuan dan Pengalaman Lapangan di Pulau Sebatik Indonesia-Malaysia

BACA JUGA:Pulau Sebatik dan Nasib Wilayah Terdepan Indonesia

Saat harus membayar apa yang sudah kami konsumsi, kami dibebaskan untuk menggunakan uang rupiah atau ringgit, asalkan dibayar sesuai dengan harga semestinya, tidak masalah bagi penjualnya. 

Begitulah keseharian masyarakat di Sebatik Malaysia-Indonesia. Praktik ekonomi, budaya, sosial, dan bahasa menjadi sangat cair. Patok-patok perbatasan memang dipasang di berbagai wilayah yang membatasi Sebatik Malaysia dan Indonesia. 

Bendera Malaysia dan Indonesia juga ditegakkan di tiap patok tersebut, tetapi kehidupan masyarakatnya sendiri seakan tidak mengenal pembatasan yang kaku dan membelenggu.  

Pulau Sebatik sendiri merupakan salah satu wilayah perbatasan paling unik. Pulau itu berada di ujung utara Kalimantan dan secara geografis terbagi menjadi dua wilayah negara: bagian utara masuk wilayah Malaysia, tepatnya Sabah, sedangkan bagian selatan merupakan bagian dari Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia. 

Garis batas negara yang membelah pulau itu tidak hanya menjadi penanda kedaulatan, tetapi juga membentuk dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang khas.

Rombongan kami datang ke Sebatik pada 16 hingga 21 Juni 2026 dengan misi memberdayakan masyarakat, terutama masyarakat nelayan di wilayah Sebatik, Tawau, Sabah, Malaysia. 

Rombongan yang diketuai Lina Puryanti itu mewakili World University Association for Community Development (WUACD) Universitas Airlangga dengan skema pendanaan Dana Abadi Perguruan Tinggi-EQUITY yang disalurkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui LPDP. 

Misi itu dimulai dari isu yang kami tangkap saat bertemu para nelayan di Sebatik. Di antara persoalan yang ada adalah nelayan yang melaut terlalu jauh sehingga sering kali menimbulkan konflik di wilayah perbatasan laut antara Malaysia dan Indonesia. 

Konflik lain adalah makin banyak dan luasnya petani rumput laut yang menebar kantong jaring dengan membentangkan tali dan jangkar untuk pembibitan rumput laut. Pembentangan kantong jaring itu makin luas dan memaksa nelayan penangkap ikan untuk berlayar makin jauh ke tengah.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: