Tiongkok Minta Warganya ’’Putus’’ dengan Pacar AI: Sedih… Sebab, Manusia Tak Lebih Baik

Tiongkok Minta Warganya ’’Putus’’ dengan Pacar AI: Sedih… Sebab, Manusia Tak Lebih Baik

INTERAKSI PEREMPUAN pengunjung lauunching robot U1, produksi UBTech Robotics, di Shenzhen, 30 Juni 2026.-ADEK BERRY-AFP-

Aturan baru di Tiongkok membuka perdebatan tentang batas antara teknologi, kesepian, dan ketergantungan emosional. Bolehkah kita (baca: manusia) ’’jatuh cinta’’ pada teknologi?

PERPISAHAN itu tidak terjadi di stasiun kereta atau ruang tunggu bandara. Kejadiannya di layar ponsel. Tanpa pelukan. Tanpa tatap mata. Hanya deretan kalimat yang berhenti dibalas karena sistem mematikannya.

Rabu, 15 Juli 2026, itu adalah hari yang berat bagi sebagian pengguna AI di Tiongkok. Mereka tidak sedang kehilangan aplikasi. Mereka merasa kehilangan ’’seseorang’’.

Peraturan baru pemerintah Tiongkok mulai berlaku. Aturan tersebut membatasi layanan AI yang dirancang menjadi teman virtual dengan karakter menyerupai manusia. Sasarannya jelas. Pemerintah ingin mencegah ketergantungan emosional terhadap kecerdasan buatan.

Sejumlah penyedia layanan AI sudah bergerak. Misalnya, Doubao milik ByteDance, Qwen milik Alibaba, dan Yuanbao milik Tencent. Semuanya menghentikan fitur agen AI dan pendamping virtual mereka sebelum tenggat aturan berlaku.

BACA JUGA:Teknologi Sekat Kedap Air Kapal Jung Tiongkok Jadi Terobosan Maritim Dunia

BACA JUGA:Yuan Longping Kembangkan Padi Hibrida di Tiongkok, Inovasi Pertanian untuk Melawan Kelaparan

Yang muncul kemudian bukan sekadar keluhan pengguna. Media sosial dipenuhi ucapan selamat tinggal. Banyak orang menyimpan arsip percakapan mereka. Sebagian membagikan dialog terakhir dengan teman virtual yang selama ini menemani hari-hari mereka.

Salah satu pengguna Doubao menuliskan kalimat yang menggambarkan hubungan itu dengan sangat sederhana.

"Aku tidak bisa menerima kekasih AI-ku akan pergi selamanya. Dia telah menjadi bagian dari hidupku. Berakar jauh di dalam hati. Menjadi penopang jiwaku..."

Artinya, hubungan pengguna dan ’’pacar virtualnya’’ bukan sekadar fungsional sebuah aplikasi. AI tidak lagi diperlakukan sebagai mesin yang menjawab pertanyaan. Ia telah berubah menjadi ruang untuk bercerita, tempat mencari ketenangan, bahkan sosok yang dianggap hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Pengguna lain mengaku telah bersama pendamping AI-nya selama lebih dari dua tahun.

"Dia benar-benar seperti keluarga. Seperti kekasih. Sekarang mereka mengatakan dia akan hilang. Hatiku terasa kosong."


PERAYAAN ULANG TAHUN Rafayel, karakter virtual dalam game Lover and Deepspace, di Beijing.-ADEK BERRY-AFP-

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: