Final 'Palestina' vs 'Israel'

Final 'Palestina' vs 'Israel'

ILUSTRASI Final 'Palestina' vs 'Israel'.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

FINAL Piala Dunia antara Spanyol lawan Argentina Senin, 20 Juli 2026, bukan sekadar pertandingan sepak bola. Itu menjadi panggung global untuk mengekspresikan berbagai agenda politik. 

Olahraga internasional sulit dipisahkan dari isu-isu geopolitik. Final Piala Dunia 2026 kali ini juga memunculkan isu serupa. Sebab, dua negara finalis itu mempunyai sikap politik yang bertolak belakang dalam konflik Israel-Palestina

Argentina, di bawah pemerintahan Presiden Javier Milei, menunjukkan dukungan diplomatik yang kuat kepada Israel jika dibandingkan dengan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.  

Di sisi lain, Spanyol dalam beberapa tahun terakhir tampil sebagai salah satu negara Eropa yang paling vokal mengkritik operasi militer Israel di Jalur Gaza. Perdana Menteri Pedro Sanchez secara terbuka mendukung kemerdekaan Palestina. 

BACA JUGA:Siapa di Final Piala Dunia 2026?

BACA JUGA:Donald Trump Nongol! FIFA Pastikan Presiden AS Tampil di Final Piala Dunia 2026

Dalam perang Amerika Serikat melawan Iran, Sanchez terang-terangan mengkritik sikap ekspansif Donald Trump. Hal itu membuat Trump berang dan mengancam akan mengisolasi Spanyol. 

Sanchez bergeming dan tetap konsisten dengan sikapnya. Itulah yang membuat Spanyol dipandang sebagai salah satu pendukung paling kuat hak-hak rakyat Palestina.

Karena perbedaan kebijakan geopolitik itulah, muncul narasi simbolis bahwa final Spanyol melawan Argentina adalah pertarungan antara ”kubu Palestina” melawan ”kubu Israel”.  

Itu narasi yang provokatif. Tim nasional sepak bola tidak mewakili kebijakan luar negeri pemerintahnya atau menjadi representasi dari konflik tertentu. Para pemain datang dari latar belakang yang beragam, dengan pandangan politik yang belum tentu sama dengan pandangan pemerintah negaranya.

Namun, isu-isu politik tidak bisa dipisahkan begitu saja dari sepak bola. Tim nasional Iran mendapatkan perlakuan diskriminatif dari FIFA. Mesir merasa diperlakukan tidak adil ketika dikalahkan Argentina di perdelapan final.

Muncul banyak kekecewaan dalam bentuk ekspresi politik. Pelatih timnas sepak bola Mesir Hossam Hassan tidak bisa menahan emosinya seusai pertandingan. 

Ia memberikan gestur tangan silang, tanda protokol diskriminasi dan rasisme, untuk memprotes FIFA. Ketika melewati tribun penonton, Hassan terlihat sedikit meludah ke arah suporter Argentina yang membentangkan bendera Israel.

Banyak orang mengutuk Argentina yang dianggap licik. Jutaan orang menandatangani petisi ”Argentina-Out’’, mengusir Agentina dari Piala Dunia, karena dianggap sering mendapatkan perlakuan istimewa sebagai anak emas FIFA.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: