Wajib Belajar 13 Tahun Harus Berujung pada Satu Rumah Satu Sarjana

Wajib Belajar 13 Tahun Harus Berujung pada Satu Rumah Satu Sarjana

ILUSTRASI Wajib Belajar 13 Tahun Harus Berujung pada Satu Rumah Satu Sarjana.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Program Beasiswa Pemuda Tangguh tidak hanya membantu mahasiswa menyelesaikan pendidikan, tetapi juga menjadi instrumen mobilitas sosial. Pendidikan tinggi membuka peluang lahirnya generasi yang lebih produktif, inovatif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga. 

Karena itu, program tersebut layak terus diperkuat dan dikembangkan sebagai bagian dari visi besar Surabaya menuju ”satu rumah satu sarjana”. 

Ketika setiap keluarga memiliki minimal satu lulusan perguruan tinggi, akan terbentuk budaya belajar, meningkatnya literasi keluarga, bertambahnya produktivitas ekonomi, dan makin kuatnya daya saing masyarakat.

Surabaya sesungguhnya memiliki modal yang sangat kuat untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Kota itu memiliki ekosistem pendidikan yang lengkap, mulai PAUD, sekolah dasar dan menengah yang berkualitas, sekolah kejuruan, hingga perguruan tinggi negeri maupun swasta yang menjadi tujuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. 

Dukungan pemerintah terhadap pengembangan pendidikan, inovasi pelayanan publik, dan kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia telah menjadi prioritas utama.

Atas dasar itulah, saya berpandangan bahwa Surabaya layak menjadi kota pendidikan. Predikat tersebut bukan hanya karena banyaknya sekolah dan perguruan tinggi, melainkan juga karena adanya komitmen nyata pemerintah daerah dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berkeadilan. 

Kota pendidikan adalah kota yang menjamin setiap anak memperoleh hak belajar, guru terus berkembang secara profesional, sekolah menjadi pusat inovasi, perguruan tinggi menghasilkan riset yang bermanfaat bagi masyarakat, dan pemerintah menjadikan pendidikan sebagai prioritas pembangunan.

Surabaya selama ini dikenal sebagai Kota Pahlawan. Julukan tersebut lahir dari sejarah panjang perjuangan rakyat Surabaya yang mempertahankan kemerdekaan dengan keberanian, persatuan, dan semangat pantang menyerah. 

Nilai-nilai kepahlawanan tersebut tidak boleh hanya menjadi cerita sejarah, tetapi harus diwariskan melalui pendidikan. 

Keberanian hari ini bukan lagi mengangkat senjata, melainkan keberanian berpikir kritis, berinovasi, menciptakan solusi, menjaga persatuan, dan mengabdikan ilmu untuk kepentingan masyarakat.

Dengan demikian, identitas Kota Pahlawan dan kota pendidikan sesungguhnya saling melengkapi. Kota Pahlawan melahirkan semangat perjuangan, sedangkan kota pendidikan melahirkan kemampuan untuk memenangkan masa depan. 

Pendidikan menjadi media paling efektif untuk meneruskan nilai-nilai kepahlawanan kepada generasi muda sehingga mereka mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Karena itu, pembangunan pendidikan di Surabaya tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Dewan Pendidikan Kota Surabaya terus mendorong penguatan pendidikan karakter arek Suroboyo sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia. 

Karakter tersebut mencakup religius, berakhlak mulia, jujur, disiplin, bertanggung jawab, berani membela kebenaran, memiliki semangat gotong royong, menghormati keberagaman, peduli terhadap lingkungan dan sesama, cinta tanah air, santun dalam berkomunikasi, beretika dalam ruang digital, kreatif, inovatif, tangguh menghadapi tantangan, serta memiliki jiwa kepemimpinan yang melayani.

Di era kecerdasan buatan dan transformasi digital, karakter menjadi keunggulan kompetitif yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai platform digital, tetapi integritas, empati, etika, dan kepedulian sosial hanya dapat dibentuk melalui pendidikan yang berorientasi pada nilai. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: