Dukung Motor Listrik Nasional, Aismoli Minta Pemerintah Gandeng Industri Eksisting
Deretan motor listrik VinFast yang sudah disiapkan di 20 dealer resmi yang mulai beroperasi di Indonesia. -VinFast Indonesia-
JAKARTA, HARIAN DISWAY – Wacana pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk menggenjot produksi motor listrik nasional mendapat sambutan positif dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), Selasa 21 Juli 2026.
Asosiasi yang menaungi puluhan merek motor listrik menilai langkah pemerintah tersebut penting untuk percepatan penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Meski begitu, asosiasi meminta agar langkah tersebut tidak justru mematikan ekosistem industri yang sudah ada.
Ketua Aismoli Budi Setiadi menegaskan saat ini industri motor listrik di Indonesia sebenarnya sudah cukup matang. Dengan keberadaan lebih dari 40 merek, baik milik swasta maupun BUMN seperti Gesits. Para pelaku industri ini telah merintis pasar motor listrik sejak 2018 di tengah berbagai tantangan regulasi dan fluktuasi pasar.
"Kami sangat mendukung semangat Presiden untuk menyentuh langsung ke tataran implementasi. Namun, harapan kami, pemerintah tidak perlu membangun dari nol. Industri yang sudah ada ini bisa digandeng. Jangan sampai ketika ada motor listrik nasional, pemain lama yang sudah berdarah-darah membangun pasar justru terpinggirkan," ujar Budi kepada Harian Disway, Selasa.
BACA JUGA:Buka 20 Dealer di Indonesia, VinFast Resmi Jual Tiga Varian Motor Listriknya
BACA JUGA:Aismoli: Jangan Tunda Insentif Motor Listrik, Industri Butuh Kepastian
Budi menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan untuk mengoptimalkan kapasitas produksi BUMN yang sudah ada dan membangun industri pendukung mobil listrik. Menurutnya, fokus utama pemerintah seharusnya bukan sekadar perakitan (assembly), melainkan penguasaan komponen inti yang selama ini masih bergantung pada impor, terutama dari Tiongkok.
"Kalau memang mau serius, jangan cuma rakitan. Baterai, motor penggerak, hingga controller itu yang harus dibuat di sini. Harapan kami, pabrik motor listrik nasional nanti juga bisa memproduksi komponen-komponen utama tersebut agar bisa diserap oleh pabrik-pabrik swasta lainnya," jelasnya.
Tantangan TKDN dan Ketergantungan Baterai
Terkait tingkat komponen dalam negeri (TKDN), Budi mengakui bahwa industri saat ini masih berjuang mencapai target. Sesuai revisi Perpres, industri ditargetkan mampu mencapai target TKDN hingga 60 persen di tahun 2027. Sementara saat ini, TKDN motor listrik yang beredar baru 40 persen.
Ia menyoroti bahwa baterai menjadi tantangan terbesar bagi industri motor listrik saat ini. Karena memakan porsi 30 hingga 40 persen dari harga total motor listrik. Meski saat ini sudah banyak pabrik perakitan baterai (battery pack) di Indonesia, namun komponen sel baterai masih mayoritas diimpor.
"Baterai memang kunci harga. Sekarang pun sudah mulai banyak inovasi, seperti skema sewa baterai yang dilakukan Polytron atau Alfa, itu upaya untuk menekan harga jual. Tapi tetap saja, sel baterainya masih bergantung impor. Kalau pemerintah bisa mengintervensi produksi komponen utama ini, tentu harga motor listrik bisa lebih kompetitif," tambah mantan Dirjen Perhubungan Darat tersebut.
Penetrasi Pasar Masih Jauh dari Target
Budi juga memaparkan realita lapangan terkait penetrasi motor listrik yang masih rendah. Dibandingkan dengan penjualan motor konvensional (internal combustion engine) yang mencapai 5 hingga 6 juta unit per tahun, penjualan motor listrik saat ini diperkirakan masih di bawah 80.000 unit per tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: