Gombloh dalam Memori Kota
Potret Gombloh, musisi kenamaan tanah air. Salah satunya dikenal lewat lagu Kebyar-Kebyar. -Remy Wicaksono-
Sejarawan Perancis Pierre Nora memperkenalkan konsep Lieux de Mémoire (Sites of Memory).
Menurut Nora, ketika memori hidup masyarakat mulai memudar, maka bangsa memerlukan "tempat-tempat ingatan".
Tempat tersebut dapat berupa:
- Jalan
- Gedung
- Museum
- Patung
- Arsip
- Kawasan sejarah
BACA JUGA:Gombloh Day dan Lokaseni Gombloh, Merawat Nyala Api Sang Penyair Jalanan
Tempat-tempat itu berfungsi sebagai pengingat identitas bersama. Dalam konteks Surabaya:
- Lokaseni (Gedung) Gombloh,
- Patung Gombloh,
- Jalan Gombloh,
Ketiganya merupakan bentuk Lieux de Mémoire. Menjadi "ruang ingatan". Tempat masyarakat terus mengingat seorang seniman yang membentuk identitas budaya kota.
Toponimi Kota
Dalam ilmu geografi budaya dikenal istilah toponimi. Yakni ilmu mengenai penamaan tempat.
BACA JUGA:9 Januari, 38 Tahun Meninggalnya Gombloh dan Kisah yang Terus Hidup
Menurut United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN), penamaan jalan merupakan representasi sejarah, identitas, dan nilai budaya masyarakat.
Nama jalan adalah "teks sejarah" yang dibaca setiap hari oleh warga kota. Karena itu hampir seluruh kota besar dunia menggunakan nama jalan untuk menghormati tokoh yang berjasa. Seperti di Paris, London, Tokyo, Seoul, hingga Yogyakarta dan Surabaya.
Toponimi Surabaya
Surabaya sejak lama menerapkan pola penamaan jalan berdasarkan karakter kawasan. Misalnya:
Kawasan Pahlawan, berisi nama-nama pejuang nasional. Kawasan Genteng, banyak menggunakan penamaan berdasarkan sejarah lokal.
BACA JUGA:Keliru, Gombloh Disebut sebagai Pencipta Lagu Bengawan Solo dalam Penghargaan di Istana Negara
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: