Ritus Liyan

Ritus Liyan

ILUSTRASI Ritus Liyan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Sekali lagi, warga tidak ditempatkan sebagai objek penelitian, tetapi sebagai produsen pengetahuan yang aktif. Berbagai karya audiovisual yang dihasilkan menjadi sarana untuk mendokumentasikan sekaligus membayangkan kembali identitas sosial dan budaya Kampung Daleman di tengah perubahan yang terus berlangsung.

Ritus Liyan sebagai Metode Belajar Bersama

Dari tiga penyelenggaraan Ritus Liyan, terlihat bahwa program itu tidak sekadar menggunakan pameran sebagai tempat memajang karya seni. Lebih dari itu, pameran dipahami sebagai ruang untuk menghasilkan pengetahuan bersama. 

Karya-karya yang ditampilkan bukan sekadar objek estetis yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari perjumpaan antara seniman, peneliti, dan masyarakat.

Ekologi suara Kampung Lumpur, gerobak sate yang dialihfungsikan menjadi karya seni, karya tekstil yang dibuat bersama ibu-ibu, maupun kronik audiovisual Kampung Daleman merupakan hasil dari percakapan, kerja sama, dan proses belajar bersama yang berlangsung selama residensi. 

Karena itu, makna pameran tidak hanya terletak pada hasil akhirnya, tetapi juga pada hubungan sosial, negosiasi, dan pertukaran pengetahuan yang terjadi sepanjang proses tersebut.

Melalui pengalaman itu, Ritus Liyan menunjukkan bahwa pameran dapat menjadi ruang yang lebih demokratis. Warga tidak hanya hadir sebagai penonton atau narasumber, tetapi juga sebagai pencipta. 

Pengalaman hidup, ingatan, pemahaman tentang lingkungan, serta praktik-praktik keseharian mereka menjadi bagian penting dari proses penciptaan karya.

Akibatnya, karya-karya yang lahir tidak lagi hanya mewakili suara seniman atau kurator. Karya-karya tersebut memuat berbagai suara yang berasal dari banyak pihak. Di sinilah batas antara peneliti dan yang diteliti, antara seniman dan audiens, bahkan antara ahli dan masyarakat umum mulai menjadi lebih cair.

Yang tidak kalah penting, Ritus Liyan mengajak kita melihat kembali nilai dari hal-hal yang sering dianggap biasa. Aktivitas sehari-hari, benda-benda sederhana, ingatan lokal, hingga pengalaman ruang yang kerap luput dari perhatian justru menjadi sumber penting bagi ekspresi budaya dan penciptaan pengetahuan.

Pada akhirnya, Ritus Liyan menunjukkan bahwa pameran dapat menjadi lebih dari sekadar tempat memajang karya seni. Ia bisa menjadi ruang perjumpaan, ruang belajar bersama, dan ruang untuk merayakan pengetahuan yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari. 

Melalui keterlibatan warga sebagai mitra yang setara, cerita-cerita yang sering terabaikan, benda-benda yang dianggap biasa, dan pengalaman hidup masyarakat memperoleh tempat yang layak dalam pembentukan kebudayaan. 

Dengan cara itu, kebudayaan tidak dipahami sebagai sesuatu yang sudah jadi dan hanya menunggu untuk dipamerkan, tetapi sebagai sesuatu yang terus hidup, berubah, dan dibentuk bersama oleh orang-orang yang menjalaninya. (*)

*) Alexei Wahyudiputra adalah dosen di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, dan peneliti di Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads, Universitas Airlangga.

*) Irfan Wahyudi adalah dosen di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: