Saat Ijazah Kehilangan Takhta: Portofolio Lebih Nyaring daripada Transkrip Nilai

Saat Ijazah Kehilangan Takhta: Portofolio Lebih Nyaring daripada Transkrip Nilai

ILUSTRASI Saat Ijazah Kehilangan Takhta: Portofolio Lebih Nyaring daripada Transkrip Nilai. -Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

SELAMA ini masyarakat memiliki keyakinan bahwa pendidikan formal merupakan tangga utama menuju masa depan cerah. Sejak balita, masyarakat didorong untuk bersekolah setinggi-tingginya dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang layak, penghasilan yang stabil, dan status sosial yang lebih baik. 

Dalam banyak keluarga, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, gelar akademik bukan sekadar simbol pendidikan, melainkan juga simbol perjuangan ekonomi keluarga. Tidak sedikit orang tua yang mengorbankan tabungan, menjual aset, bahkan berutang demi memastikan anaknya memperoleh gelar sarjana.

Namun, paradigma dunia kerja global kini sedang mengalami pergeseran yang cukup fundamental. Sejumlah perusahaan multinasional mulai mengurangi ketergantungan pada persyaratan gelar akademik dan lebih menekankan pada kemampuan nyata yang dapat dibuktikan pelamar. Fenomena itu menimbulkan pertanyaan besar: apakah gelar sudah tidak lagi relevan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut sebenarnya tidak sesederhana ”ya” atau ”tidak”. Yang sedang terjadi bukanlah kematian gelar, melainkan perubahan posisi gelar dalam sistem perekrutan modern. Jika dahulu gelar dianggap sebagai syarat utama untuk memasuki pasar kerja, kini ia lebih berfungsi sebagai salah satu indikator kompetensi, bukan satu-satunya indikator.

BACA JUGA:Kini Ijazah Tak Lagi Cukup

BACA JUGA:Ijazah dan Dinamika Perpolitikan di Indonesia

Perubahan itu didorong oleh perkembangan teknologi yang sangat cepat. Dunia industri saat ini bergerak lebih cepat daripada kemampuan institusi pendidikan untuk memperbarui kurikulumnya. 

Banyak keterampilan baru yang dibutuhkan perusahaan lahir dalam rentang waktu yang jauh lebih singkat jika dibandingkan dengan proses penyusunan kurikulum universitas. 

Akibatnya, muncul kesenjangan antara apa yang diajarkan di ruang kuliah dan apa yang dibutuhkan di lapangan kerja.

Dalam perspektif teknologi digital, misalnya, perusahaan sering kali lebih tertarik melihat kemampuan seseorang dalam membangun aplikasi, mengelola data, atau mengembangkan kecerdasan buatan daripada sekadar melihat asal universitasnya. 

Seseorang yang memiliki portofolio proyek yang kuat sering dianggap lebih siap bekerja daripada lulusan dengan indeks prestasi tinggi, tetapi minim pengalaman praktis.

BACA JUGA:Pemakzulan Wapres dan Kasus Ijazah Jokowi: Sebuah Psikologi Politik

BACA JUGA:Boyongan Ijazah Jokowi

Data global menunjukkan adanya pergeseran yang cukup signifikan. Sebuah laporan yang dikutip Western Governors University menunjukkan bahwa sekitar 86 persen perusahaan di Amerika Serikat kini menganggap keterampilan lebih penting daripada gelar formal dalam proses rekrutmen. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: